Pemain Naturalisasi Indonesia, yang Bersinar dan Redup

Reporter:
Editor:

Ariandono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain timnas Indonesia, Ezra Walian melakukan swafoto bersama pendukung Timnas U-22 usai menang melawan Timnas U-22 Kamboja pada laga terakhir penyisihan grub B SEA Games XXIX Kuala Lumpur di Stadion Shah Alam, Selangor, Malaysia, 24 Agustus 2017. Indonesia mendukkan Kamboja denga skor 2-0. ANTARA FOTO

    Pemain timnas Indonesia, Ezra Walian melakukan swafoto bersama pendukung Timnas U-22 usai menang melawan Timnas U-22 Kamboja pada laga terakhir penyisihan grub B SEA Games XXIX Kuala Lumpur di Stadion Shah Alam, Selangor, Malaysia, 24 Agustus 2017. Indonesia mendukkan Kamboja denga skor 2-0. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Sepak bola Indonesia kembali mendapatkan pemain naturalisasi. Mereka adalah striker Bhayangkara FC, Ilija Spasojevic, dan gelandang kelahiran Jerman, Kevin Scheunemann.
     
    Nama kedua pemain itu menambah panjang daftar pemain asing maupun keturunan yang dinaturaslisasi Indonesia. Sebelumnya ada nama-nama seperti Cristian Gonzalez hingga Ezra Wallian. 
     
    Tak semua pemain naturalisasi mampu menunjukan tajinya. Beberapa justru menurun performanya saat telah memiliki kewarganegaraan Indonesia. Berikut beberapa nama pemain naturalisasi yang didapat Tempo.
     
    1. Cristian Gonzalez 

    Cristian Gonzalez menjadi pemain pertama yang dinaturaslisasi oleh Indonesia. Saat itu, striker asal Uruguay itu telah berumur 33 tahun. Namun sederet prestasi di Liga membuat Indonesia berani menaturalisasi Gonzalez. 

     
    Dia tercatat pernah 4 kali menjadi pencetak gol terbanyak Liga Indonesia bersama Persik Kediri, Persib Bandung, serta dua kali bersama Arema Cronus. Begitu dinaturaslisasi, ia langsung dipanggil timnas untuk berlaga di AFF 2010. 
     
    Di sana ia tampil menjanjikan dengan mencetak dua gol di dua laga semifinal melawan Filipina. Meski begitu, Indonesia harus menyerah atas Malaysia di laga Final. Saat ini, Gonzalez tak lagi dipanggil timnas. Usianya yang telah mencapai 40 tahun, menjadi salah satu faktor penghambatnya. 
     
    2. Irfan Bachdim 

    Irfan Bachdim. TEMPO/Mazini Hafizhuddin

    Nama Irfan Bachdim masih konsisten disebut dalam jajaran penyerang potensial Indonesia. Sejak dinaturaslisasi pada 2010, Irfan langsung dipanggil oleh pelatih Timnas Indonesia kala itu, Alfred Riedl, untuk ajang Piala AFF 2010.
     
    Irfan konsisten bermain untuk timnas hingga saat ini. Meski beberapa kali pindah klub hingga ke luar negeri, namun nama Irfan tetap masuk jajaran skuad utama Garuda. Di era kepelatihan Luis Milla, penyerang asal Bali United itu kerap dipasang sebagai penyerang sayap. 
     
    3. Kim Jeffry Kurniawan 

    Kim Jeffry Kurniawan berpose pada saat menghadiri konferensi pers, usai screening film Aku Cinta Kamu di Epicentrum XXI, Jakarta, (4/3). TEMPO/Nurdiansah

    Gelandang ini merupakan adik ipar dari Irfan Bachdim. Ia sebenarnya disiapkan untuk skuad Timnas menghadapi AFF 2010. Namun terhalang proses pemberkasan naturalisasi yang lambat, nama Kim tak masuk dalam skuad Alfred Riedl.
     
    Kim baru bisa masuk jajaran skuad Timnas pada Maret 2015 pada laga persahabatan melawan Myanmar. Permainan gelandang yang saat ini merumput bersama Persib Bandung itu dinilai biasa saja. Hal ini terlihat dari jumlah Kim dipanggil Timnas, yang baru dua kali. 
     
    4. Victor Igbonefo 

    Pemain Indonesia Victor Igbonefo. TEMPO/Seto Wardhana

    Bek asal Nigeria itu dinaturaslisasi pada Oktober 2011. Saat ini, mantan pemain Persipura Jayapura ini bermain di Liga Thailand bersama klub Nakhon Ratchasima FC.
     
    Sejauh ini Igbonefo tampil stabil dan kerap menjadi pemain inti. Pada musim lalu, Igbonefo memperkuat Royal Thai Navy FC. Ia juga masih kerap dipanggil Timnas. Namun di bawah asuhan Luis Milla saat ini, nama Igbonefo belum sekali pun dipanggil timnas. 

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.