Mile Jedinak Bawa Australia Lolos ke Piala Dunia 2018

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain timnas Australia berunding siasat sebelum pertandingan melawan Chilli, di Brazil 14 Juni 2014. REUTERS/Amr Abdallah Dalsh.

    Pemain timnas Australia berunding siasat sebelum pertandingan melawan Chilli, di Brazil 14 Juni 2014. REUTERS/Amr Abdallah Dalsh.

    TEMPO.CO, Jakarta - Australia memastikan satu tiket Piala Dunia 2018 setelah menekuk Honduras dengan skor 3-1 pada laga play-off antarbenua, Rabu, 15 November 2017. Gelandang bertahan Aston Villa, Mile Jedinak, menyumbangkan dua gol dalam laga itu.

    Tampil di depan suporternya sendiri di Staium ANZ, Sidney, Australia mendominasi penguasaan bola pada babak pertama. Namun rapatnya pertahanan Honduras, membuat tim Cahill cs kesulitan menjebol gawang lawan.

    Gol bagi Australia baru tercipta pada babak kedua, tepatnya pada menit ke-54. Tendangan bebas Jedinak sempat membentur pemain belakang Honduras, Henry Figueroa, sehingga membuat bola berubah arah dan mengecoh penjaga gawang Denis Escober.

    Pada menit ke-72, Australia mendapatkan hadiah penalti setelah gelandang Honduras, Bryan Acosta, menyentuh bola di kotak penalti. Jedinak yang maju sebagai algojo sukses melaksanakan tugasnya serta membuat Australia unggul 2-0.

    Pada menit ke-85, Jedinak kembali mencetak gol melalui titik putih. Kali ini, pemain pengganti Robbie Kruse dilanggar di dalam kotak penalti.

    Honduras hanya mampu memperkecil ketertinggalan pada injury time. Penyerang Alberth Elis mencetak gol setelah terjadi kemelut di depan gawang Australia yang dijaga Mathew Ryan.

    Hasil 3-1 membuat Australia menjadi tim ke-31 yang memastikan lolos ke putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia. Pada laga pertama di kandang Honduras, kedua tim hanya bermain imbang 0-0.

    FIFA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.