Origi Beri Sinyal Tak Mau Kembali ke Liverpool

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyerang Liverpool Divock Origi, berduel dengan pemain Atletico Madrid Keidi Bare pada final Audi Cup di Munchen, 2 Agustus 2017. REUTERS/Michael Dalder

    Penyerang Liverpool Divock Origi, berduel dengan pemain Atletico Madrid Keidi Bare pada final Audi Cup di Munchen, 2 Agustus 2017. REUTERS/Michael Dalder

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyerang muda Liverpool, Divock Origi, tak bisa menegaskan masa depannya dengan klub Liga Inggris itu. Origi yang dipinjamkan Liverpool ke Wolfsburg musim ini tampak menunjukkan keraguan bahwa dirinya ingin kembali ke Stadion Anfield.

    Dalam wawancara dengan media Inggris, Independent, Origi menyatakan bahwa dirinya ingin terus bermain setiap pekannya. Dia ingin menunjukkan kemampuannya secara konstan setiap pekan.

    "Sangat sulit untuk mengatakan (apakah saya akan kembali ke Liverpool atau tidak), yang bisa saya katakan adalah saya ingin suatu saat nanti menunjukan bakat yang saya miliki secara konstan," ujarnya.

    "Hal itu lahir dari bermain, belajar, mengekspresikan diri anda serta melalui masa-masa baik maupun sulit," katanya.

    Dia mengaku saat ini telah cukup nyaman berada di Wolfsburg. Origi sejauh ini telah mencetak 4 gol dalam 12 laga.

    "Satu hal yang pasti adalah saya percaya pada kemampuan saya dan kita lihat saja nanti kemana saya akan pergi," ujarnya.

    Penyerang berusia 22 tahun itu diboyong Liverpool dari klub Prancis, Lille, pada 2014 lalu. Dia juga sempat dipinjamkan ke Lille pada musim pertamanya sebagai pemain Liverpool. Bersama The Kop, dia telah mengantongi 33 laga dan mencetak 8 gol.

    Pada awal musim ini dia memilih hengkang setelah Liverpool mendatangkan Mohamed Salah dan pemain muda Chelsea, Dominic Solanke. Kehadiran kedua pemain itu mengancam kesempatan bermain Origi.

    INDEPENDENT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.