Everton Tekuk Swansea, Ada Ketajaman dan Kegagalan Rooney

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyerang Everton Wayne Rooney, melakukan selebrasi. Action Images via Reuters/Lee Smith

    Penyerang Everton Wayne Rooney, melakukan selebrasi. Action Images via Reuters/Lee Smith

    TEMPO.CO, JakartaWayne Rooney ikut mengantar Everton mengalahkan Swansea 3-1 dalam lanjutan Liga Inggris di Goodison Park, Selasa dinihari WIB. Ia mencetak gol dari titik penalti, meski gagal mengeksekusi satu penalti lainnya.

    Pada menit ke-45 Rooney berpeluang menyamakan kedudukan. Saat itu, Everton yang sudah tertinggal oleh gol Leroy Fer mendapat penalti.

    Namun, eksekusi Rooney gagal berbuah gol. Tendangan mantan pemain Manchester United itu diblok Lukas Fabianski.

    Ini menjadi kegagalan penalti ke-10 dari 33 yang ia hadapi di Liga Inggris. Ia hanya terpaut satu kegagalan lagi dari Alan Shearer, sebagai pemegang rekor di Liga Inggris.

    Meski tendangan Rooney dibendung kiper, Everton tetap mendapat gol dari kejadian itu. Bola yang muntah saat itu disambar Dominic Calvert-Lewin menjadi gol.

    Everton lantas berbalik unggul pada menit ke-64 lewat gol Gylfi Sigurdsson, yang juga mantan pemain Swansea. Keunggulan mereka dilengkapi dengan gol penalti dari Rooney pada menit ke-73.

    Gol itu sekaligus menjaga ketajaman Rooney di Everton. Ia kini sudah mengumpulkan 10 gol, sama dengan Sergio Aguero (Manchester City) dan Romelu Lukaku (Manchester United).

    Bagi Everton, kemenangan ini menandai terjaganya kebangkitan di bawah Sam Allardyce, yang menggantikan Ronald Koeman. Tim itu tak pernah kalah dan mampu meraih 13 poin dari 5 laga terakhirnya.

    Kini Everton menempati posisi kesembilan klasemen dengan nilai 25 dari 18 laga, terpaut 9 angka dari zona Liga Champions. Swansea tetap di dasar klasemen dengan nilai 12.

    REUTERS | SOCCERWAY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.