Minggu, 27 Mei 2018

Patrick Kluivert Lebih Suka Anaknya Main di Liga Spanyol

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Justin Kluivert, penyerang muda Ajax Amsterdam yang juga putra dari Patrick Kluivert. (soccerblitz.net)

    Justin Kluivert, penyerang muda Ajax Amsterdam yang juga putra dari Patrick Kluivert. (soccerblitz.net)

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan pemain depan Barcelona, Patrick Kluivert, menginginkan anaknya, Justin Kluivert, 18 tahun, bermain di Liga Spanyol. Namun ia juga ingin putranya itu lebih dahulu mengembangkan diri di Ajax.

    "Saya bilang padanya bahwa dia masih 18 tahun, serta mesti tenang dan yakin untuk bertahan lebih lama di Ajax. Manakala kamu pindah ke negara lain, kompetisi lain, kamu harus kuat secara mental dan fisik, kamu tak boleh tergesa-gesa pergi," kata Kluivert.

    Justin saat ini dianggap sebagai salah satu pemain potensial di Eropa. Ia sudah mencetak 6 gol dalam 19 pertandingan Eredivisie musim ini untuk Ajax. Ia juga banyak dipuji karena kemampuannya menggocek bola. Belakangan, ia terus dihubung-hubungkan dengan Barcelona, Real Madrid, Manchester United, Arsenal, dan Chelsea.

    Kluivert Sr., yang membawa Ajax juara Liga Champions pada 1995, berkata kepada radio Spanyol, El Larguero, bahwa anaknya itu sudah melakukan segalanya dengan bagus sekali tapi dia tidak perlu cepat-cepat meninggalkan Ajax. Namun, bila akhirnya harus pindah, ia lebih menyarankan pindah ke La Liga daripada Liga Inggris.

    "Sulit berkata tidak kepada Barca, juga kepada tim-tim besar lainnya, yang paling penting adalah memilih tim yang sesuai dengan gaya tim dia, bukan dengan tim yang membayar dia lebih. Saya mengharapkan anak saya lebih bermain di Liga Spanyol ketimbang Liga Premier, tapi itu bergantung pilihan dia," kata Kluivert dalam laman ESPN.


     

     

    Lihat Juga

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Dua Pendaki Mahasiswi Univesitas Parahyangan Gapai Seven Summits

    Pada 17 Mei 2018, dua mahasiswi Universitas Parahyangan, Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, menyelesaikan Seven Summits.