MU vs Chelsea, Duel Gengsi Mourinho dan Conte

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Manager Manchester United Jose Mourinho dan Manager Chelsea Antonio Conte. REUTERS

    Manager Manchester United Jose Mourinho dan Manager Chelsea Antonio Conte. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Laga panas antara Manchester United  atau MU melawan Chelsea akan tersaji di pekan ke 28 Liga Inggris, pada Ahad, 25 Februari 2018. Bukan hanya bagian dari perebutan titel juara Liga Inggris, laga nanti sekaligus menjadi adu gengsi antara dua pelatih kharismatik, Jose Mourinho melawan Antonio Conte.

    Kedua pelatih telah beberapa kali terlibat perseturuan tegang. Adu komentar pedas juga kerap muncul dari mulut kedua pelatih.

    1. Awal Perseturuan Conte dan Mourinho

    Ketegangan pertama kali mencuat pasca laga Chelsea vs MU pada Oktober 2016 silam. Itu merupakan kali pertama Mourinho kembali ke Stamford Bridge, pasca dipecat beberapa bulan sebelumnya oleh Chelsea. Laga berakhir dengan kemenangan tuan rumah 4-0, lewat gol yang dicetak oleh Pedro, Gary Cahill, Eden Hazard, dan N'Golo Kante.

    Sepanjang gol yang tercipta, Conte terus menerus bersorak dan membuat selebrasi histeris yang kemudian jadi ciri khasnya. Seperti dilaporkan oleh Sky Sports, Mourinho merasa tak nyaman dengan gaya Conte itu.

    Pasca pertandingan, Mourinho nampak menyalami Conte dan membisikan sejumlah kalimat. Menurut laporan wartawan Italia yang ada di lokasi, saat itu Mourinho menegur pelatih asal Italia itu. "Kamu tidak merayakan dengan gaya seperti itu pada skor 4-0. Jika skor 1-0 mungkin bisa saja. Bagaimanapun hal itu mempermalukan kami," kata Mourinho.

    Kejadian itu menandai awal perseturuan panjang Mourinho dan Conte.

    2. Saling Sindir Kebijakan

    Conte mengakhiri tahun pertamanya di Chelsea dengan mempersembahkan gelar Liga Inggris. Menerapkan pola 3-4-3 ala Italia di sepak bola Inggris, Conte berhasil membuat kejutan dan mengungguli Mourinho yang juga baru ditunjuk mengarsiteki Setan Merah.

    Mourinho menyindir permainan Chelsea terlalu defensif dan terlalu banyak menumpuk pemain di belakang. "Dengan situasi ini, sebuah tim yang sangat defensif bisa jadi juara dengan hanya bermodal serangan balik dan bola mati," kata Mourinho.

    Conte sendiri juga tak kalah panas dengan kondisi itu. Ia juga kerap menyindir kebijakan Mourinho saat menukangi Chelsea dulu. Salah satu kebijakan MOurinho yang Conte kritik, adalah meminjamkan Victor Moses ke Wigan pada 2012.

    Saat dipanggil pulang Conte, Moses memang kemudian menjadi pilihan utama Chelsea di sayap kanan. Ia ikut mengantarkan Chelsea menjadi juara musim 2016/2017. "Saya langsung bisa melihat potensi dia (Moses) sejak hari pertama saya setelah berkumpul di sini," kata Conte.

    3. Perang Komentar di Press Conference

    Memasuki musim 2017/2018, perseturuan dua manajer tak jua usai. Perhatian media terhadap perseturuan ini pun semakin besar. Hal ini tercermin dalam tiap acara konferensi pers kedua pelatih. Meski sedang dalam kondisi tak berhadapan, namun wartawan kerap melempar isu satu sama lain.

    Mourinho sendiri kerap tak bisa menahan keinginan untuk mengaitkan Conte. Contohnya pada Oktober 2017, MU yang akan menghadapi Benfica di Liga Champions didera masalah banyaknya cedera pemain. Pada acara Konferensi Pers, Mourinho mengatakan dirinya tak khawatir.

    "Saya tak pernah membicarakan cedera. Sedangakn manajer lain, mereka menangis, menagis, menangis, ketika pemainnya cedera," kata Mourinho. Banyak yang percaya pelatih asal Portugal itu menyiratkan manajer lain itu sebagai Conte. Beberapa saat sebelumnya, Conte memang mengeluhkan banyaknya pemain yang cedera di Chelsea.

    Menanggapi hal ini, Conte di Konferensi Pers lain langsung membuka suara. Ia meminta Mourinho tak usah mengomentari urusannya. "Saya pikir dia (Mourinho) harus mulai berpikir tentang timnya dan mulai dirinya sendiri, bukan orang lain," kata Conte.

    4. Mulai Saling Hina

    Pada Januari 2018, Mourninho ditanyai soal komitmennya bersama MU. Ia pun menjawab dengan mengatakan komitmen dia di Setan Merah itu nyata dan tak perlu ditunjukan dengan gaya berlebihan dan berapi-api di pinggir lapangan, seperti pelatih di klub sebelah.

    "Saya tak perlu berlaku seperti badut di pinggir lapangan," kata pelatih dengan julukan The Special One itu. Banyak yang berpikir bahwa Mourinho kembali menyindir Conte yang memiliki gaya berapi-api ketika mengawasi anak latihnya bermain.

    Ini bukan pertama kalinya Mou menyindir Conte. Pada Juli 2017, tak terima disindir Conte, Mourinho pernah menyebut-nyebut soal rambut Conte yang mulai membotak.

    Conte pun kembali menyerang balik. Menanggapi komentar Mourinho yang menyamakannya dengan badut, Conte menyebut Mourinho menderita pikun. "Saya pikir dia (Mourinho) harus melihat dirinya sendiri beberapa tahun belakangan, mungkin dia membicarakan dirinya sendiri," kata Conte.

    5. Mourinho Ingin Berdamai

    Pada Januari 2018, Mourinho mengakui perseturuannya dengan Conte sebagai hal yang lucu. Ia pun meyakinkan wartawan bahwa hal tersebut telah berakhit.

    "Ketika saya tak memulai, maka hal tersebut terasa lucu bagi saya melihat orang lain berlaga seperti korban, padahal mereka bukan korban. Tapi saya benar-benar tak menikmatinya. Karena itulah buat saya hal ini sudah berakhir," kata dia.

    The Special One pun mengatakan Conte seharunya bisa bertindak jantan dengan mengatakan maaf terlebih dahulu. Mourinho mengatakan dirinya pernah melakukan hal serupa, saat ia merasa bersalah menyindir kemampuan bahasa Claudio Ranieri.

    "Berapa kali saya yang salah, di kesempatan lain, pelatih lain lah yang salah. Dlaam kasus saya, ketika saya pikir saya yang salah, maka saya harus meminta maaf terlebih dahulu," kata Mourinho.

    Dengan permintaan maafnya pada Ranieri dulu, Mourinho mengatakan hubungannya dengan Ranieri pun langsung membaik. Mereka pun dapat kembali akrab.

    Mungkinkah Mourinho dan Conte berdamai di laga pekan ke 28 Liga Inggris nanti? Atau justru komentar lain muncul dan memperpanas laga MU vs Chelsea ?

    SKY SPORTS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sepak Terjang Artidjo Alkostar Si Algojo Koruptor

    Artidjo Alkostar, bekas hakim agung yang selalu memperberat hukuman para koruptor, meninggal dunia pada Ahad 28 Februari 2021. Bagaimana kiprahnya?