Mesut Ozil, Luka Integrasi yang Muncul Sejak Jelang Rusia 2018

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aksi dua pemain Polandia saat menahan langkah pemain Jerman, Mesut Ozil dalam laga babak penyisihan Grup C Piala Eropa di Stade de France in Saint-Denis, Paris, Perancis, 16 Juni 2016. Laga ini berakhir dengan skor kacamata. AP Photo/Christophe Ena

    Aksi dua pemain Polandia saat menahan langkah pemain Jerman, Mesut Ozil dalam laga babak penyisihan Grup C Piala Eropa di Stade de France in Saint-Denis, Paris, Perancis, 16 Juni 2016. Laga ini berakhir dengan skor kacamata. AP Photo/Christophe Ena

    TEMPO.CO, Jakarta - Mezut Ozil mengumumkan pengunduran dirinya dari tim nasional Jerman pada Minggu, 22 Juli 2018. Ozil baru saja gagal membawa Jerman mempertahankan gelar juaranya pada Piala Dunia 2018 di Rusia.

    Baca: Mesut Ozil: Saya Mundur Karena Rasisme dan Tidak Dihargai

    Ozil kecewa dengan perlakuan yang diterimanya setelah tampil di Piala Dunia 2018. Hal itu yang menyebabkan ia memutuskan mundur dari tim Jerman pada usia 29 tahun.

    Baca: Foto Mesut Ozil dengan Presiden Erdogan, antara politik dan rasa ...

    Pemain gelandang Arsenal itu kecewa karena menilai dirinya terus mendapat perlakukan tak adil sejak bertemu dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, di London, Inggris, Mei 2018.

    Baca: Mesut Ozil: Saya Jerman ketika Menang, Imigran saat Kalah

    Perlakuan yang diskriminatif terhadap Ozil dan pemain tim nasional Jerman keturunan Turki lainnya, Ilkay Gundogan, sudah diterima delapan hari sebelum Piala Dunia 2018 dimulai di Rusia pada 14 Juni.

    Hal itu terjadi ketika Jerman mengadakan pertandingan uji coba melawan Arab Saudi.

    Penyebabnya adalah foto bersama Ozil dan Gundogan dengan Erdogan ketika bertemu di London, Mei lalu, itu. Bersama Ozil dan pemain Everton, Cenk Tosun, Gundogan juga menyerahkan satu kostum Manchester City kepada Erdogan. Ozil juga menyerahkan kostum Arsenal kepada pemimpin Turki ini.

    Jadi, ketika Jerman gagal mempertahankan kemenangannya pada Piala Dunia di Brasil 2014, dengan  tersingkir pada fase grup di Rusia 2018, mereka yang tidak suka kepada Ozil dan Gundogan menemukan alasan untuk menyerangnya lebih dalam.

    Kembali kepada pertandingan uji coba Jerman melawan Arab Saudi pada 8 Juni 2018 di Stadion BayArena, Leverkusen, Pelatih Jerman, Joachim Loew, tidak terima dengan ejekan yang diterima Gundogan selama pertandingan berlangsung. Ozil absen dalam pertandingan persahabatan itu.

    Ejekan terutama diterima Gundogan setiap mendapat bola. Ia diturunkan oleh Loew pada menit ke-57 untuk menggantikan pemain gelandang Marco Reus.  

    Setelah pertandingan yang berakhir dengan kemenangan 2-1 untuk Jerman itu, Loew mengecam mereka yang terus-menerus mencemooh Gundogan  dan juga Ozil.

    “Fakta seorang pemain nasional diejek seperti itu tidak menolong siapapun. Ia (Gundogan) memang berfoto (dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan).  Tapi, ia telah menjelaskannya kepada media dan menegaskan dukungannya kepada Jerman. Persoalan ini harus diakhiri,” kata Loew.

    Persoalan para pemain Turki ini kemudian mengendap, tapi seperti luka yang siap terkoyak kembali.

    Ketika Jerman yang tersingkir pada babak fase grup dalam putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia, luka itu terkoyak lagi. Foto Ozil dan Gundogan bersama Erdogan dipersoalkan kembali.

    Penampilan Ozil sebagai pemain starter di lini tengah selama mengikuti pergelaran di Rusia 2018 dikritik. Ozil dinilai kurang memberikan kontribusi penting buat timnya, sebagaimana yang dilakukannya empat tahun lalu di Brasil.

    Penampilan Ozil yang dinilai loyo di Rusia 2018 kemudian dihubungkan dengan pertemuannya dengan Erdogan.

    Pada saat bersamaan, Erdogan sedang  banyak mendapat kritik dari dunia internasional karena dipandang melecehkan hak-hak kemanusiaan.

    Berkaitan dengan sorotan penampilannya di Rusia 2018 dan dikaitkan dengan pertemuannya dengan Erdogan, Ozil mengkritik Presiden Federasi Sepak Bola Jerman (DFB), Reinhard Grindel.

    “Buat saya, berfoto bersama Presiden Endorgan adalah bukan soal politik atau pemilihan umum. Itu adalah soal sikap saya untuk menghormati pemimpin tertinggi pemerintah di negara asal keluarga saya,” tulis Ozil di Twitter.

    “Pekerjaan saya adalah pemain sepak bola dan bukan seorang politikus. Perlakukan yang saya terima dari DFB dan banyak pihak lainnya membuat saya tidak ingin lebih lama mengenakan kostum pemain tim nasional Jerman,” Ozil melanjutkan.

    “Saya merasa tidak dikehendaki dan berpikir apa yang saya raih sejak melakukan debut di tim nasional Jerman pada 2009 telah dilupakan,” kata Ozil.

    Menyinggung langsung tentang Reinhard Grindel, presiden DFB, Ozil menulis, “Orang yang punya latar belakang diskriminasi seharusnya tidak diperbolehkan bekerja di sebuah federasi sepak bola terbesar di dunia, yang memiliki keturunan keluarga ganda. Sikap seperti mereka tidak mencerminkan pemain yang seharusnya mereka wakili.”

    “Di mata Grindel dan para pendukungnya, saya orang Jerman ketika kami menang. Tapi, saya orang imigran ketika kami kalah,” Ozil menegaskan dalam pernyataannya di Twitter sebanyak tiga lembar itu. 

    Baca: Kecewa, Mesut Ozil Pensiun Dari Timnas Jerman

    Pemain berusia 29 tahun itu juga menyatakan menerima pelecehan melalui surat elektronik setelah tim Jerman gagal mempertahankan gelarnya di Piala Dunia 2018.

    GUARDIAN | BBC | ESPN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.