William Pacheco Bicara Perbedaan Liga Indonesia dan Malaysia

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para pemain Persija Jakarta saat berlatih. Tempo/Fakhri hermansyah.

    Para pemain Persija Jakarta saat berlatih. Tempo/Fakhri hermansyah.

    TEMPO.CO, Bekasi - William Pacheco bakal merasakan kembali atmosfir sepak bola Indonesia. Klub yang dibelanya sekarang, Selangor FA, akan melakoni laga uji coba melawan mantan timnya, Persija Jakarta, di Stadion Patriot Candrabhaga, Kota Bekasi pada Kamis malam ini, 6 September 2018.

    "Saya senang kembali ke Indonesia," kata Pacheco dalam jumpa pers sebelum laga melawan Persija Jakarta.

    Pada musim lalu, Pacheco membela Persija Jakarta dan mengantarkan klub itu menduduki peringkat keempat klasemen akhir. Raihan itu pula mengantarkan Macan Kemayoran mendapatkan tiket ke Piala AFC, namun kandas di babak semi final zona Asean.

    Menurut Pacheco, kompetisi sepak bola di Indonesia tak jauh beda dengan di Malaysia. Namun, perbedaan paling mencolok adalah perjalanan menjelang setiap pertandingan. Di Indonesia, perjalanan dalam laga tandang membutuhkan waktu yang lama dan jauh.

    "Banyak terbang untuk bertandang ke calon lawan. Lokasinya jauh-jauh sampai ke Papua," kata pemain asal Brasil itu.

    Hal ini, kata dia, tak terjadi di Malaysia. Menurut dia, laga tandang di kompetisi sepak bola di sana hanya cukup ditempuh menggunakan jalur darat, paling lama memakan waktu sekitar sejam menggunakan transportasi bus.

    Sayangnya kiprah Pacheco memperkuat Selangor FA menjelang berakhirnya kompetisi tak semanis ketika membela Persija Jakarta musim lalu. Selangor FA yang juga diperkuat mantan bintang Liga 1 Indonesia, Evan Dimas Darmono dan Ilham Udin kini menduduki peringkat ke-8, tertinggal 32 angka dari pemuncak klasemen Darul Takjin yang sudah memastikan menjadi kampiun musim ini.

    ADI WARSONO


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Kombatan ISIS asal Indonesia yang Terdeteksi di Suriah dan Irak

    Pada 2017, BNPT memperkirakan seribu lebih WNI tergabung dengan ISIS. Kini, kombatan asal Indonesia itu terdeteksi terserak di Irak dan Suriah.