Butuh Dana Rp 20 Miliar, Bos Sriwijaya FC Siap Lepas Saham

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesepak bola Sriwijaya FC, Alberto Goncalves da Costa (tengah), berebut bola dengan pemain PSMS dalam pertandingan Go-Jek Liga 1 2018 di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ), Palembang, Kamis, 18 Oktober 2018. Sriwijaya FC tetap di posisi ke-13 dengan nilai 30. ANTARA/Nova Wahyudi

    Pesepak bola Sriwijaya FC, Alberto Goncalves da Costa (tengah), berebut bola dengan pemain PSMS dalam pertandingan Go-Jek Liga 1 2018 di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ), Palembang, Kamis, 18 Oktober 2018. Sriwijaya FC tetap di posisi ke-13 dengan nilai 30. ANTARA/Nova Wahyudi

    TEMPO.CO, Palembang - Klub Sriwijaya FC memastikan butuh dana setidaknya Rp 20 miliar dalam mengarungi musim kompetisi Liga 2 tahun 2019. Sedangkan dana tersedia di kas klub tidak mencukupi untuk mengejar target kembali ke Liga 1 pada 2020.

    Sedangkan sponsor kakap belum berani terang-terangan untuk ikut andil dalam membesarkan klub bermarkas di Jakabaring, Palembang ini. Menyikapi hal itu, Muddai Madang, direktur utama PT Sriwijaya Optimis Mandiri (PT SOM) selaku operator klub menyatakan kesiapannya untuk melepas saham miliknya.

    "Untuk berlaga di Liga 2 setidaknya dibutuhkan dana sekitar Rp 20 miliar dengan target juara agar bisa naik lagi ke Liga 1," katanya, Kamis, 20 Desember 2018.

    Muddai menguasai saham Sriwijaya FC atau setara 88,0 persen. Dia mengatakan, jika penjualan saham itu terwujud, maka bisa memastikan keikutsertaan klub berkompetisi di Liga 2 pada musim depan. Salah satu pihak yang gencar untuk menguasai saham Sriwijaya adalah pihak pemerintah provinsi Sumsel. Namun, ia melanjutkan mekanisme pembeliannya tentunya tidak boleh melanggar aturan mengingat dana APBD tidak boleh masuk ke klub profesional. Menurut Muddai, pembelian itu dapat dilakukan pemprov melalui Badan Usaha Milik Daerah seperti PT Jakabaring Sport City.

    Bahkan, demi memuluskan keinginan Gubernur Sumsel itu, Muddai pun bersedia menjual saham di bawah harga pasar dan menjual seluruh saham miliknya. Muddai Madang menjabat sebagai komisaris utama PT SOM sejak tahun 2008. Selama ini, ia hanya berada di balik layar pengelolaan Sriwijaya FC. Pengelolaan klub, kemudian diserahkan ke Presiden Klub Dodi Reza Alex dan jajaran direktur.

    Namun, lantaran terjadi persoalan finansial yang cukup pelik padai pertengahan tahun 2018, membuat Wakil Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) ini terpaksa turun tangan. Apalagi Dodi Reza melepaskan jabatan sebagai presiden klub sejak menjabat sebagai Bupati Musi Banyuasin.

    Secara terpisah Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bakal membeli saham mayoritas milik komisaris utama PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) Muddai Madang. Pemprov Sumsel bahkan mempersiapkan anggaran belanja tambahan (ABT) dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Sumsel 2019 mendatang. Untuk tahap awal akan membeli sebanyak 51,0 persen Sriwijaya FC. "Kami menginginkan Minimal 51 persen kalau cocok harganya kita ambil alih," ujar Herman Deru.

    PARLIZA HENDRAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.