Eksklusif, Ratu Tisha Bicara Soal PSSI Cegah Kecurangan Bola

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria (kiri) berjabat tangan dengan pelatih Timnas Indonesia U-22 Indra Sjafri (kanan) seusai memberikan keterangan pada konferensi pers persiapan Timnas U-22 jelang Piala AFF U-22 di Jakarta, Jumat 4 Januari 2019. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/

    Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria (kiri) berjabat tangan dengan pelatih Timnas Indonesia U-22 Indra Sjafri (kanan) seusai memberikan keterangan pada konferensi pers persiapan Timnas U-22 jelang Piala AFF U-22 di Jakarta, Jumat 4 Januari 2019. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Ratu Tisha, dipanggil oleh Satuan Tugas Anti Mafia Sepak Bola Kepolisian Republik Indonesia untuk kedua kali pada Jumat, 4 Januari 2019, di Jakarta. Pemanggilan itu berhubungan dugaan pengaturan skor sepak bola dan gambaran menyeluruh organisasi PSSI.

    Sehari sebelumnya, tim Tempo secara khusus menemuinya untuk sebuah wawancara di kawasan Epicentrum, Jakarta. Berikut kutipan wawancara Rikang, Diko Oktara, Hussein Abri, dan Aditya Budiman dari Tempo dengan Ratu Tisha berkaitan dengan dugaan pengaturan skor sepak bola di Indonesia dan masalah lain yang dihadapi PSSI.

    Kutipan wawancaranya disajikan dalam beberapa bagian. Pada bagian pertama, Ratu Tisha mengingatkan untuk berhati-hati menggunakan istilah mafia dan match fixing. Pada bagian kedua, ia menjelaskan apa saja yang telah dilakukan PSSI untuk mencegah kecurangan, termasuk dugaan pengaturan skor sepak bola.

    Bagaimana anda memandang peristiwa yang terjadi di Liga 2 atau Liga 3 soal dugaan pengaturan skor sepak bola?

    Harus dibedakan antara opini dan fakta. Di PSSI fakta itu dibuktikan melalui yudisial body yang bernama komite disiplin, komite banding, atau komite etik. Kalau melihat putusan badan yudisial sudah ada putusan dari PSSI. Bagi internal PSSI, itu (match fixing), bagian dari sehari-hari diperangi mau dibicarakan atau tidak. Ini sama seperti menjaga bis kota dari copet. Posisinya seperti kita naik mobil lalu pakai sabuk pengaman.

    Tindakan preventif melalui kerja sama dengan partner internasional dan jalin komunikasi dengan FIFA dan itu adalah yg tidak perlu diberitakan, karena PSSI kerja untuk sepak bola, bukan ketenaran. Kita punya seat belt untuk masalah organisasi, seat belt untuk kompetisi. Banyak yang dilakukan.

    Semua yang dilakukan ujungnya ke timnas yang berprestasi untuk jangka waktu yang panjang. Orang tahu Ronaldo berlatih keras setelah dia jadi juara. PSSI butuh waktu, butuh kepercayaan. Sulit ketika tidak punya keduanya, karena PSSI punya kewenangan untuk mengatur sepak bola. Harapannya beri kami waktu dan kepercayaan. Kalau tidak ada progres, tidak mungkin ada ujian dari FIFA.

    Ada yang urus badan yudisial PSSI, komite disiplin melakukan investigasi dan data gathering. Ketika ada (temuan/dugaan kecurangan) tidak sesulit hukum positif. Melalui hukum sepak bola sudah bisa di sanksi karena aturannya untuk sepak bola. Perkara itu terlibat tindakan pidana di luar keolahragaan, kami terima kasih dengan polisi yg turut membantu. Silakan diproses. Tapi, kalau kita membolasaljukan ini dengan bilang ini fenomena yang terjadi, saya tak bisa komentar. Harus hati-hati mengaitkan sesuatu yang opini jadi fakta.

    Apa yang sudah dilakukan PSSI untuk mencegah kecurangan?

    Sejak 2017 kita kerja sama dengan Genius Sport. Itu partner FIFA, juga untuk hal yang memonitor abnormal dari satu pertandingan. Jadi kita diberikan live report setiap pertandingan, baik Liga 1 dan Liga 3. Kami monitor ada yg di-follow up, banyak. Kita bekerja sudah dari 2017 dan sebelumnya pun waktu era PSSI sebelumnya, engagement dengan Sport Radar inisiasinya. Kita juga lapor ke AFC integrity. Kita report ke FIFA dalam waktu quarterly apa yang dilakukan, setiap kali pertandingan ada keanehan. Keanehan itu di-flag, ada yellow, red, green.

    Kita cek apakah itu data error, keolahragaan semata. Kalau ada terkait dengan beberapa case, kita naikkan ke komite disiplin. Komisi disiplin lakukan investigasi, bila perlu dilakukan pemanggilan, lakukan pemanggilan. Ketika tidak terbukti, kembali dia. Tapi, tetap kita monitor. Itu sudah dilakukan 2017. Hal yang kami lakukan itu seperti memasang seat belt tadi. Kita tak perlu bilang ke orang kalau sudah pasang seat belt.

    Report dari Genius Sport itu per bulan?

    Per pertandingan.

    Apakah Genius Sport melihat ada indikasi match fixing di laga yang disebutkan di acara Mata Najwa (Madura FC melawan PSS Sleman)?

    Secara umum posisinya Genius Sport supporting data. Jadi PSSI sendiri punya komite disiplin di setiap asosiasi provinsi. Tidak diam juga mereka. Setiap ada sesuatu pasti akan report ke PSSI. Diperkuat ketika ada supporting data. Ketika dia muncul berkali-kali, contoh klub sama punya pattern, barulah kita investigasi. Saya tidak bisa bicara confidential data detail. Yang jelas itu bagian dari salah satu komite disiplin yang ambil keputusan dan lakukan investigasi dan mengambil keputusan, melakukan proses persidangan. Kita supply.

    Apakah PSSI bisa melihat ketika pertandingan sudah memasuki fase krusial, misalnya di 32 besar, berupaya fokus ke elemen tertentu yang diasumsikan rawan terjadi kecurangan?

    Kadang saya suka berpikir juga kenapa masih kalah, tak siap menang karena masyarakat kita tak siap menerima kekalahan. Fakta itu. Sehingga, ketika kita kalah, imajinasi kita liar. Luar biasa imajinasi itu. Ibaratnya seperti itu. Kita seperti tidak siap kalah. Maksudnya iklim kompetisi secara natural, semakin menuju puncak memperebutkan satu yang mengangkat piala, yang namanya juara pasti akan semakin panas.

    Mau secara apapun tapi please jangan imajinasikan diri kita, bahwa itu hal yang terus dikaitkan dengan hal di luar sport. Sampai kapan pun kita tak akan pernah menang, karena kita tak pernah bisa menerima iklim kompetisi.

    Itu sudah pasti, makanya pengamanan kita akan ditambah kalau berada di puncak. Karena fans akan banyak dan kita kirim wasit terbaik memimpin Liga 3, walau sudah tidak menentukan. Kita kirimkan (wasit) yang terbaik. Itu secara iklim memang ada, iklimnya panas. Inilah kompetisi. Inilah olahraga. Jadi harus siap punya iklim kompetisi ini. Kita harus menang iya, tapi jangan diimajinasikan satu hal itu.

    Tidak hanya soal itu, pengamanan, fans, sponsor, pengawasan pertandingan, media. Ketika di dalam kita lakukan pekerjaan itu dan menemukan indikasi yang kita tahu sebagai orang bola, kita akan gali melalui tim investigasi yg ada di Asprov (asosiasi provinsi). Kalau ada itu punya supporting data cukup naikkan ke komite disiplin, komite disiplin naikkan lagi akan ada pemanggilan. Itu prosesnya.

    Ada satu contoh di mana wasit membuat kesalahan dalam keputusan. Setelah diusut masalahnya ada pada hal teknis, yaitu persoalan fisik yang akhirnya membuat keputusan salah. Tapi, kesalahan wasit itu jangan diimajinasikan lain, maksudnya dalam konteks match fixing.

    Wasit bisa melakukan kesalahan seperti pemain miss penalti. Messi miss penalti melakukan kesalahan, besoknya mungkin tak dipasang lagi. Sama wasit juga.

    Dalam konteks pencegahan kecurangan pertandingan, ke depan apakah PSSI akan mengubah format kompetisi Liga 2 dan Liga 3 seperti di Liga 1?

    Pengkajian sistem kompetisi variable banyak. Tapi, yang paling utama dipengaruhi sisi keolahragaan, karena kita harus buat liga kompetitif. Bukti liga kompetitif sampai detik akhir kita tidak tahu siapa yang juara dan degradasi. Kita harus buat liga kompetitif. Makanya kenapa Liga 1 dibuat full kompetisi. Tapi, kedua logistik. Indonesia besar seperti mengelola UEFA Champions League. Kita akan mudah secara aspek keolahraga, klub yang ada di Papua sendiri, di Nusa Tenggara sendiri, memiliki level kompetitif sama sehingga bisa dipecah, sehingga logistik tidak besar baru dipertemukan. Tapi, kenyataan tidak seperti itu.

    Sepak bola bagian dari kehidupan masyarakat. Pembangunan yang masih harus diratakan di daerah. Infrastuktur yang berlainan. Kajian jangan sampai memberatkan klub yang ada.

    Makanya di Liga 2 mereka orang amatir yang baru masuk ke profesional, transisi ke profesional. Kita harus bagi barat-timur. Ini keunikan Indonesia. Australia mirip dengan Indonesia. Tapi, karena fasilitas merata membuat level sporting-nya merata, jadi kalau dipecah tidak masalah. Tantangan PSSI sinergi dengan pemerintah di infrastruktur olahraga.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.