Ada Pengaduan Soal Suap, Satgas Antimafia Bola Datangi PSSI Jatim

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo PSSI. (pssi.org)

    Logo PSSI. (pssi.org)

    TEMPO.CO, Surabaya - Satuan Tugas atau Satgas Antimafia Bola bergerak cepat menindaklanjuti laporan manajer Perseba Super Bangkalan, Imron Abdul Fatah, terkait suap pemilihan tuan rumah Piala Soeratin 2009 yang diselenggarakan di Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

    Selasa pagi, 15 Januari 2019, sekitar pukul 10.00, dua orang dari Satgas Antimafia Bola mendatangi kantor Asprov PSSI Jatim di Jalan Ketampon, Surabaya. Mereka meminta data soal Piala Soeratin 2009.

    "Dua orang Satgas datang minta data berkenaan kompetisi zaman Haruna Soemitro," kata Ketua Asprov PSSI Jatim, Ahmad Riyadh, kepada Tempo, Selasa siang. Haruna merupakan Ketua Asprov PSSI Jatim saat Piala Soeratin 2009.

    Riyadh mengaku pihaknya tidak memiliki data yang diminta Satgas. Menurut dia, data tersebut merupakan data lama di masa kepengurusan Haruna. "Siapa itu dulu ketuanya, ya minta ke sana," katanya.

    Haruna, yang kini manajer Madura United tersebut, bersama Iwan Budianto, saat itu menjabat Ketua Badan Liga Sepak Bola Amatir Indonesia, dilaporkan Imron karena keduanya memintanya membayar biaya pencalonan sebagai tuan rumah Piala Soeratin 2009.

    Jika dia tak sanggup, tuan rumah akan dialihkan ke Bandung. Imron pun akhirnya menyanggupi dengan mentransfer uang ke Haruna Rp 115 juta, sedangkan ke Iwan, yang saat ini menjabat Kepala Staf Ketua Umum PSSI, sebesar Rp 25 juta.

    Dengan membayar ratusan juta tersebut, Perseba Super Bangkalan tak hanya berhasil menjadi tuan rumah, tapi juga melenggang sampai final dan merebut gelar juara Piala Soeratin 2009 setelah mengalahkan Persema Malang dengan skor 2-1.

    NUR HADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.