Natshir Tak Terkendala Adaptasi dengan Pelatih Kiper Baru Persib

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kiper Persib Bandung, Muhammad Natshir. (persib.co.id)

    Kiper Persib Bandung, Muhammad Natshir. (persib.co.id)

    TEMPO.CO, Bandung - Kiper inti Persib Bandung Muhammad Natshir mengatakan tidak merasakan masalah yang cukup besar ihwal adaptasi dengan pelatih kiper baru Persib, Gatot Prasetyo. Natshir mengaku sudah mengenal Gatot saat masih memperkuat Pelita Jaya pada 2012 silam.

    "Sama pelatih kiper tidak masalah, semua kiper mengikuti apa yang diperintahkan di dalam latihan dengan serius," ujar Natshir usai latihan rutin di Universe Fitness, Jalan Manado, Kota Bandung, Kamis, 17 Januari 2019.

    Natshir mengaku ada beberapa metode khusus yang diterapkan Gatot saat berlatih. Namun, secara keseluruhan metode latihan kiper yang dilahap Natshir dan 2 kiper Persib lainnya, I Made Wirawan dan Aqil Savik tidak jauh berbeda dengan metode yang diterapkan pelatih kiper sebelumnya, Anwar Sanusi.

    "Kebetulan Radovic ingin seperti itu (kiper sweeper), ternyata kiper-kiper sekarang memang harus berfungsi sebagai stopper sebagai bek dan kita setiap mengawali latihan di latihan mulai kemarin selalu passing karena itu menyesuaikan untuk bisa bermain bola-bola pendek dengan bek terutama," ucapnya.

    Pemain kelahiran Bandung, 25 tahun itu mengatakan kiper modern memang ditugaskan untuk bisa memainkan bola melalui umpan passing pendek ataupun umpan jauh. Tugas penjaga gawang tidak melulu dalam menangkap bola tapi menjadi pemain pertama yang berfungsi membangun serangan.

    "Kalau saya pribadi ya utamakan build up serangan tapi ketika lawan melakukan pressure, maka pemain kita gak mungkin kan build up. Nah tapi ketika lawan tidak melakukan pressure, saya utamakan pasti selalu build up dari belakang," kata kiper Muhammad Natshir.

    AMINUDDIN A.S.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.