Vigit Waluyo Minta Maaf Setelah Diperiksa Satgas Antimafia Bola

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Vigit Waluyo. twitter.com

    Vigit Waluyo. twitter.com

    TEMPO.CO, Surabaya - Tersangka kasus mafia bola, Vigit Waluyo, didampingi kuasa hukumnya menggelar konferensi pers setelah diperiksa Satuan Tugas Antimafia Sepak Bola di Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur, Kamis, 24 Januari 2019.

    Kepada awak media yang hadir, Vigit membuka konferensi dengan mengutarakan permintaan maaf. "Dalam kesempatan ini kepada rekan-rekan semua, tentunya saya memohon maaf kepada masyarakat Indonesia," katanya.

    Selanjutnya Vigit berjanji akan membuka semua terkait pengaturan skor dan pertandingan sejauh yang ia ketahui. "Saya akan sedikit menceritakan apa yang terjadi pada kami. Ini yang saya rasakan," kata eks manajer Deltras tersebut.

    Muhammad Sholeh, kuasa hukum Vigit, mengatakan, dengan terbongkarnya kasus ini, kliennya berharap ada perubahan dalam tubuh pengurus Persatuan Seluruh Sepak Bola Indonesia (PSSI) sehingga kompetisi berjalan tanpa kecurangan.

    Sholeh juga menegaskan bahwa kliennya akan kooperatif dan membantu Satgas membongkar kasus ini. "Sepanjang apa yang beliau tahu akan disampaikan," kata Soleh, yang juga kuasa hukum klub PSMP Mojokerto Putra tersebut.

    Wakil Kepala Satgas Antimafia Sepak Bola, Brigader Jenderal Krishna Murti, mengatakan setelah dilakukan pemeriksaan, pihaknya akan menjerat Vigit dengan pasal penipuan, suap, dan pencucian uang. "Itu tiga konstruksi hukumnya," katanya.

    Sebelumnya Vigit ditetapkan tersangka setelah Satgas menyidik Mbah Puti alias Dwi Irianto, anggota Komdis PSSI. Dari hasil penyidikan itu, Vigit diduga terlibat, di antaranya, pengaturan pertandingan PSMP Mojokerto vs Aceh United di Liga 2 2018.

    NUR HADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.