Chelsea Vs Tottenham, Eksperimen Sarri Terhadap Kante Berhasil?

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Chelsea N'Golo Kante melepaskan tendangannya saat bertanding melawan Tottenham Hotspur dalam Leg Pertama Piala Liga di Wembley Stadium, London, Inggris, 8 Januari 2019. REUTERS/Eddie Keogh

    Pemain Chelsea N'Golo Kante melepaskan tendangannya saat bertanding melawan Tottenham Hotspur dalam Leg Pertama Piala Liga di Wembley Stadium, London, Inggris, 8 Januari 2019. REUTERS/Eddie Keogh

    TEMPO.CO, JakartaChelsea berhasil menyingkirkan Tottenham Hotspur dari babak semifinal Carabao Cup setelah menang dalam adu penalti dini hari tadi. N'Golo Kante dan Eden Hazard menjadi pahlawan Chelsea dalam menyamakan kedudukan setelah pada laga pertama kalah 0-1.

    Kante memecah kebuntuan Chelsea pada menit ke-27. Tendangan kerasnya dari pinggir kotak penalti menembus pertahanan Tottenham. Bola keras melaju diantara kaki dua pemain belakang skuad Lili Putih sebelum merobek pertahanan penjaga gawang Paolo Gazzaniga.

    Gol Eden Hazard pada menit ke-38 membuat Chelsea sempat unggul dua gol sebelum Fernando Llorente menjadikan skor 2-1. Meskipun pada akhirnya laga itu ditentukan oleh penalti David Luiz, tetap saja Kante yang menjadi perhatian publik.

    Suporter Chelsea memuji eks gelandang Leicester City itu selangit. Menurut mereka Kante berhasil menjawab tantangan Sarri untuk lebih aktif membantu lini serang.

    "Gol yang luar biasa. Melewati tiga kaki pemain lawan, itu bukan sesuatu yang mudah bagi seorang gelandang bertahan," tutur seorang suporter Chelsea seperti dilansir laman Daily Star.

    "Kante mempecundangi tiga pemain sekaligus dengan gol itu," ujar suporter lainnya.

    Kante didatangkan Chelsea dari Leicester City pada awal musim 2016-2017. Pelatih The Blues saat itu, Antonio Conte, menerapkan pola pertahanan tiga bek tengah dengan dua gelandang bertahan, Kante dan Nemanja Matic.

    Pola itu sukses membawa Chelsea merih gelar juara Liga Inggris dan menjadikan Kante dan Matic sebagai duo gelandang bertahan terbaik di liga Singa. Musim berikutnya, meskipun Matic hengkang dan mereka kehilangan gelar juara, Kante terbukti masih mampu menunjukkan bahwa Chelsea merupakan salah satu tim dengan pertahanan terbaik.

    Kehadiran Maurizio Sarri yang menggantikan Conte mengubah peran Kante. Hal itu tak lepas dari perubahan pola yang diterapkan si manajer. Sarri lebih senang memainkan satu gelandang bertahan di depan empat pemain belakang.

    Apalagi dia membawa serta Jorginho, anak kesayangannya ketika di Napoli. Jorginho yang berperan sebagai deep playmaker lebih dipercaya Sarri menempati satu posisi gelandang bertahan. Alhasil Kante harus bergeser lebih ke kanan dan mendapatkan peran lebih banyak dalam membantu serangan.

    Hal itu juga tak lepas dari upaya Sarri untuk membuat timnya lebih produktif mencetak gol. Ketiadaan penyerang haus gol di skuadnya membuat pria asal Italia tersebut memaksa setiap pemainnya di semua lini untuk dapat menyumbangkan gol.

    Kejelian Sarri melihat potensi lain dari Kante patut dipuji,  secara statistik produktivitas Kante meningkat tajam musim ini. Dia telah mencetak total empat gol dengan masih setengah musim tersisa. Itu merupakan capaian terbaik Kante sepanjang karir sepak bolanya.

    Saat membawa Leicester City menjuarai Liga Inggris musim 2015-2016, Kante cuma menyumbangkan satu gol. Musim pertamanya di Chelsea, dia cuma mencetak dua gol sementara musim lalu dia hanya membuat sebiji gol.

    Begitu pula ketika dia masih berseragam Cannes di Liga Prancis. Dua musim di klub itu, Kante masing-masing hanya mencetak tiga gol.

    Alhasil nilai si pemain melambung tinggi. Kante didatangkan Chelsea dari Leicester dengan mahar hanya 32 juta pound sterling. Menurut laman transfermarkt, nilai Kante terus mengalami peningkatan.

    Jika pada awal musim dia ditaksir berharga 54 juta pound sterling, dalam penilaian terakhir pada Desember lalu dia ditaksir bisa mencapai 90 juta pound sterling. Dia merupakan gelandang bertahan termahal di dunia saat ini sekaligus disebut sebagai gelandang bertahan pertama yang mencapai nilai 100 juta euro dalam sejarah.

    Meskipun demikian, tak semua orang sepakat dengan peran Kante yang lebih maju ke depan musim ini. Banyak pihak menilai Kante masih tampak kesulitan bermain dengan posisi dan peran barunya tersebut. Mereka juga menilai lini pertahanan Chelsea lebih terbuka tanpa adanya Kante.

    Namun pendapat itu tak sepenuhnya benar. Buktinya, dari empat tim teratas Liga Inggris saat ini, Chelsea masih bisa dianggap sebagai salah satu yang terbaik. Mereka hanya kebobolan 19 gol sejauh ini, hanya kalah dari Liverpool dan Manchester City yang baru kebobolan 13 dan 17 gol. Bahkan Chelsea lebih baik dari Tottenham yang berada di atas mereka dan sudah kebobolan 23 gol.

    Dengan kehadiran Gonzalo Higuain ke kubu Chelsea, kemungkinan Kante untuk kembali ke gaya permainan dan posisi awalnya memang terbuka lebar. Sarri bisa saja kembali menerapkan pola 4-2-3-1 seperti yang kerap dia peragakan di Napoli. Kante bisa berduet dengan Jorginho sementara urusan penyerangan bisa diserahkan kepada kuartet Eden Hazard, Pedro, Willian dan Higuain.

    Namun tak menutup kemungkinan juga Kante tetap akan memainkan peran barunya tersebut. Dia sebenarnya cukup piawai dalam memainkan peran sebagai gelandang serang. Hanya saja Kante membutuhkan waktu untuk terbiasa di posisi itu. Jika Kante sudah menemukan ritmenya, bisa saja Chelsea akan menemukan kembali sosok Frank Lampard yang pernah sukses bersama mereka.

    DAILY STAR| SKY SPORTS| TRANSFERMARKT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.