AC Milan Vs Cagliari: Tunggu Mesin Gol Piatek Berputar Lagi

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain AC Milan, Krzysztof Piatek. (beinsports.com)

    Pemain AC Milan, Krzysztof Piatek. (beinsports.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Tahun lalu nama pemain penyerang Krzysztof Piatek seperti asing bagi publik Seri A Liga Italia. Tapi, klub Genoa seperti berjudi dengan membeli pemain 23 tahun itu dari klub di Liga Polandia, Cracovia, pada musim panas lalu dengan harga transfer 4 juta euro atau sekitar Rp 63,34 miliar untuk kontrak empat tahun.

    Tapi, perjudian Genoa berhasil. Piatek mencetak 19 gol dari 21 pertadingan. AC Milan lantas membayar 35 juta euro untuk membeli penyerang Polandia tersebut. Piatek dikontrak AC Milan dari 23 Januari 2019 sampai Juni 2023.

    Piatek hanya butuh waktu sebentar untuk mengakrabkan dirinya dengan suporter AC milan dengan dua gol yang membawa AC Milan mengalahkan Napoli 2-0 pada Coppa Italia, 30 Januari 2019. Setelah itu, Piatek sempat membawa AC Milan unggul 1-0 melawan AS Roma di Seri A, 4 Februari lalu, sebelum Nicolo Zaniolo menyamakan kedudukan Roma menjadi 1-1.

    Piatek mungkin tidak terlalu gesi, tapi ia serupa predator dalam kotak penalti lawan dan mengingatkan pada seniornya dengan tipikal yang hampir sama, yaitu Robert Lewandowski, di Bayern Munich. 

    “Ia penyerang terlengkap yang pernah bekerja sama dengan saya. Ia salah satu eksekutor gol terbaik di Eropa,” kata Manajer Genoa, Cesare Prandelli on Piatek.

    AC Milan saat ini hanya mampu berada di peringkat keenam klasemen dari 20 tim di Seri A Liga Italia 2018-19 dan akan menjamu peringkat ke-15 Caglari pada pekan ke-23, Senin dinihari nanti, 11 Februari 2019.

    AC Milan tentunya berharap mesin gol barunya itu beroperasi lagi, sekencang Lewandowski dalam bentuk terbaiknya di Bayern Munich.

    FORBES | CALCIO | SKY SPORTS


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.