Dibantai Manchester City, Maurizio Sarri Siap Dipecat Chelsea

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - “Saya selalu mempunyai risiko dipecat Chelsea,” kata Maurizio Sarri, pelatih klub berjuluk The Blues itu setelah mereka dikalahkan tuan rumah, Manchester City, 6-0, pada pekan ke-26 bagi klub dari London ini dalam Liga Primer Inggris 2018-2019.

    Maurizio Sarri seperti tak habis mengerti bagaimana para pemainnya bisa kalah begitu telak seperti itu dalam pertandingan di Stadion Etihad, Manchester, dinihari tadi, Senin 11 Februari 2019.

    Menyasikan penyerang veteran dari Argentina, Sergio Aguerro, melakukan hat-trick, dengan memborong tiga gol, Raheem Sterling dua gol, dan Ilkay Gundogan (1), berpesta gol di Etihad, Maurizio Sarri harus menerima kenyataan, pelatih asal Italia ini membawa Chelsea mengalami kekalahan terbesar dalam sejarah klub London selama 28 tahun terakhir.

    Setelah membawa Chelsea tidak terkalahkan dalam 12 pertandingan perdana musim ini dalam debut Sarri, ia kemudian mulai menemui masa yang sulit dan itu terjadi sebelum mereka dipermalukan City dinihari tadi.

    Maurizio Sarri begitu cepat menimbulkan pujian dalam debutnya. Tapi, secepat itu pula ia menghadapi risiko, yaitu rekor tercepat pemecatan seorang manajer. Apalagi jika melihat sejarah ketidaksabaran sang pemilik klub dari Rusia, Roman Abramovich, dalam menghadapi kinerja para manajernya di Stamford Bridge.

    Sarri mungkin akan menghadapi dilema terus mempertahkan konsep permainannya yang terus dikritik, ketika mulai menuai hasil buruk setelah 12 pertandingan, atau mencoba berkompromi dengan situasi di lapangan.

    Taktik Sarri di Chelsea dijuluki Sarri-Ball. Mantan manajer Napoli ini menekankan cara menyerang yang cepat, melalui kombinasi umpan pendek dan umpan cepat. Karena itu, para pemainnya akan terus bergerak di seluruh sisi lapangan secepat mungkin.

    Dengan mengusung pola susunan pemain 4-3-3, Sarri mengubah formasi koleganya, Antonio Conte, yang sebelumnya memakai formasi 3-4-3 untuk membawa Chelsea juara, sebelum Conte dipecat menjelang musim ini.

    Dengan dua kali sesi dalam sehari, Sarri menerapkan pola latihan yang ketat untuk mengulang-ulang strategi menekan alias pressing dan menyerang. Jika Conte memakai dua bek sayap untuk mendukung strategi menyerang, Sarri mendatangkan Jorginho dari Napoli untuk mengatur serangan dari lini tengah.

    Meski demikian bintang Chelsea, Eden Hazard, menilai Sarri mengulang taktik Conte. Tapi, Sarri berkeras tidak akan mengubah taktiknya meski setelah 12 laga perdana itu, Chelsea sering kalah dan tercecer di peringkat keempat.

    Hazard juga merasa bosan dengan metode latihan repetitif yang menjurus spartan dari Maurizio Sarri dan bintang Belgia itu gerah jika dipatok harus berada pada posisi tertentu yang akan meredam nalurinya untuk menjelajah. Skema Sarri pun dinilainya terlalu rapi dan ketat sehingga mereduksi kreativitas dan munculnya kekhasan individu masing-masing pemain.        


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.