Kekalahan Chelsea, Italia, dan Permainan Politik Bola

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Chelsea adalah sebuah tim yang dengan dinamika yang tinggi. Selain banyak dipenuhi pemain dan manajer asal Italia, “politik” di klub berjuluk The Blues ini juga tinggi.

    Sebelum pernyataan Maurizio Sarri yang sontak menimbulkan kegemparan, bahwa ia siap dipecat sewaktu-waktu oleh bos tertinggi Chelsea, Roman Abramovich, setelah digilas Manchester Citu 6-0 di Etihad, Manchester, dinihari tadi, Senin 11 Februari 2019, ada banyak gesekan yang terjadi di sana.

    Chelsea, dengan kepribadian yang unik, nyentrik, dan kontrovesial dari sang bos, Roman Abramovich, termasuk salah satu klub yang paling banyak menggantikan manajernya dalam waktu singkat.

    Selain huru-hara Jose Mourinho dalam periode keduanya di Chelsea, ada kisah rekan senegaranya dari Portugal, Andre Villas-Boas, di Stamford Bridge yang teramat singkat dan tragis, 2011-2012.

    Villas-Boas yang meraih sukses di Porto, seperti seniornya, Mourinho, dengan memenangi Liga Europa, seperti tidak apa-apanya dan tak terterima di kalangan pemain Chelsea.

    Dulunya Villas-Boas memang merintis karier di Inggris dan konon dulu ia yang bertugas membagi-bagikan rekaman dvd pertandingan calon lawan Chelsea. Kemudian, ia datang lagi ke Chelsea sebagai manajer. Hal itu terjadi ketika di klub berjuluk The Blues itu masih bermukim para pemain yang berkarakter begitu kuat, sehingga menyerupai “raja-raja kecil”, John Terry dan kawan-kawan.

    Isunya sebagai manajer, Villas-Boas sama sekali tak dianggap oleh Terry cs. Selain itu, pada periode yang berbeda, ketika dipecat pada periode keduanya di Chelsea, Mourinho juga merasa Terry cs yang melakukan pendongkelan terhadapnya.

    Selain gesekan yang riuh, jejak orang-orang Italia di Chelsea ini memang kental. Di lapangan ada Gianfranco Zola, Roberto Di Matteo, dan Gianluca Vialli, untuk menyebut beberapa contoh, sebelum ketiganya beralih karier menjadi pelatih.

    Di tataran manajer atau pelatih kepala, jangan dilupakan Claudio Ranieri yang menjadi orang pertama setelah masuknya Roman Abramovich di kepemilikan klub. Ranieri yang diberi uang banyak oleh Abramovich untuk menjadikan Chelsea tumbuh menjadi klub raksasa, sebelum Jose Mourinho mengharumkan nama The Blues pada 2004-2006.

    Di lapangan sekarang tak banyak pemain dari Italia di skuad Chelsea. Tapi, orang terakhir yang membawa mereka juara Liga Primer Inggris adalah pelatih dari negeri sepak bola Cattenacio itu, Antoni Conte. Trofi Liga Champions terakhir yang bisa menjadi milik Chelsea juga berasal dari besutan Roberto Di Matteo, sebelum ia juga dipecat Abramovich.

    Kini, pelatih Italia lainnya, Maurizio Sarri sedang berada di jalan yang sama, membawa Chelsea juara lagi atau malah dipecat lebih awal.


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.