Ole Gunnar Solskjaer dan Faktor Pengalaman di Liga Champions

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelatih sementara Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer memberi selamat pada Jesse Lingard yang menjebol gawang Cardiff dalam laga lanjutan Liga Inggris di Cardiff City Stadium, Inggris, 22 Desember 2018.  REUTERS

    Pelatih sementara Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer memberi selamat pada Jesse Lingard yang menjebol gawang Cardiff dalam laga lanjutan Liga Inggris di Cardiff City Stadium, Inggris, 22 Desember 2018. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Satu hal yang cenderung diabaikan dari sosok manajer sementara Ole Gunnar Solskjaer pada partai Manchester United menjamu Paris Saint-Germain (PSG) di Stadion Old Trafford, Rabu dinihari, 13 Februari 2019, dalam pertemuan pertama 16 besar Liga Champions, adalah faktor pengalaman.

    Meski sudah mencatat prestasi fantastis dalam debutnya sebagai manajer caretaker Setan Merah, yaitu 11 kali beruntun tak terkalahkan, Solskjaer masih suka dipandang sebelah mata sebagian orang, termasuk dari dalam tubuh Red Devils sendiri.  

    Kabar yang sudah lama beredar bahwa Solskjaer akan diangkat “menjadi pegawai tetap” di United jika meloloskan Setan Merah dari hadangan PSG dalam dua kali pertemuan nanti adalah contoh jelas bagaimana prestasi istimewa dari mantan pemain United berjuluk Baby Assasin dipandang sebelah mata.

    Hal itu sekaligus menyiratkan adanya kesangsian terhadap kemampuan anak didik Alex Ferguson ini dalam menangani tim di kejuaran utama antarklub Eropa.

    Soal keunggulan kepelatihannya bisa diperdebatkan, tapi ada hal lain yang kali ini bisa menjadi kunci, yaitu pengalaman panjang Solskjaer sebagai pemain di Liga Champions.

    Untuk tingkat manajer tim -dengan sejumlah pelatih di bawah naungannya-, faktor karisma dan pendekatan psikologis kepada para pemain, karena juga pernah merasakan “berdarah-darah” di lapangan bisa menjadi sangat strategis dan mengatasi persoalan teknis, terutama buat tim-tim yang sudah mencapai standar kualitas tinggi.

    Lihat bagaimana Zinedine Zidane seperti tiba-tiba naik ketika menjadi manajer Real Madrid. Zidane pun diragukan dan prestasinya di liga domestik tak terlalu menjulang. Tapi, pada saat-saat yang tepat, Zidane mampu mendorong Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan memenangi Liga Champions tiga kali beruntun.

    Buat Ronaldo cs dengan teknik yang sudah di atas rata-rata itu yang dibutuhkan adalah figur yang disegani sekaligus memberi inspirasi di kamar ganti. Dan, siapa tak tahu prestasi Zidane yang hebat sebagai pemain di Real Madrid maupun Prancis.

    Dan, Solskjaer adalah masuk dari barisan terakhir anak-anak emas Alex Ferguson yang bisa membawa Manchester United meraih treble di tiga kejuaraan bergengsi, yaitu Liga Primer Inggris, Piala FA, dan Liga Champions 1998-99. Adalah Solskjaer David Beckham, dan kawan-kawan terakhir kali yang bisa membawa Manchester United memenangi Liga Champions. Dan, itu berkat gol Solskjaer pada injury time menit 90+2.   

    Solskjaer memang menyayangkan bintang PSG seperti Neymar –dan kemungkinan besar Edison Cavani- harus absen.

    Solskjaer teringat bagaimana euforia publik Old Traffor melihat Ronaldo, Raul, Luis Figo, dan Zinedine Zidane dari Real Madrid pada perempat final Liga Champions 2003.

    “Saya bermain beberapa kali ketika kami melawan Real Madrid, dan  Ronaldo, Figo, dan kawan-kawan tiba di Trafford. Kehadiran mereka memberikan tambahan motivasi untuk melawan,” kata Solskjaer kepada London Evening News.

    Tapi, apakah seandainya Neymar dan Cavani main atau tidak, kekuatan Manchester United sekarang sudah begitu besar karena ada Ole Gunnar Solskjaer. Dialah yang membuat pemain seperti Anthony Martial dan Paul Pogba mencapai bentuk permainan terbaiknya ketika mengalahkan Fulham 3-0, pekan lalu.

    “Kita sebaiknya tidak meremehkan kualitas Liga Prancis. Mereka (PSG) akan siap,” kata Solskjaer. Tanda kehati-hatian dan juga kematangan. Ia siap membawa Manchester United meraih era baru setelah 1998-99.


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.