Chelsea, Warisan Conte dan Inkonsistensi Sarri-ball

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Manajer Chelsea, Maurizio Sarri, menyerukan timnya untuk tampil secara konsisten pasca kemenangan 2-1 atas Malmo FF di ajang European League Jumat dini hari tadi. Inkonsistensi memang menjadi masalah Sarri sejak paruh kedua musim ini.

    Sejak kedatangannya awal musim lalu, Sarri memang mengundang silang pendapat di kalangan pengamat Liga Inggris. Sebagian pengamat beranggapan Sarri akan sukses menerapkan gaya permainannya yang kerap di sebut Sarri-ball, sementara sebagian lainnya bersikap pesimis.

    Kedua belah pihak sama-sama memiliki argumentasi yang kuat. Pihak yang optimis beranggapan keberadaan Jorginho yang diboyong Sarri dari Napoli akan membantu para pemain Chelsea lainnya dalam melakukan transisi gaya permainan dari era Antonio Conte. Sementara pihak yang pesimis menyatakan bahwa Sarri setidaknya membutuhkan beberapa kali masa bursa transfer untuk sukses menerapkan Sarri-ball.

    Pada paruh pertama musim ini, pendukung Sarri bisa bersorak sorai karena Chelsea tampil cukup apik. Chelsea total hanya menelan tiga kekalahan di Liga Inggris.

    Mereka bahkan mampu menunjukkan tajinya ketika menghadapi tim kuat Liga Inggris. Mereka menang atas Arsenal bahkan mampu memutus rekor tak terkalahkan Manchester City pada pekan ke-16. Tottenham Hotspur menjadi satu-satunya tim papan atas yang mengalahkan Chelsea pada paruh pertama dengan hasil imbang kontra Liverpool dan Manchester United.

    Memasuki paruh kedua, inkonsistensi Chelsea mulai terlihat. Puncaknya adalah kekalahan 0-6 dari Manchester City akhir pekan lalu yang membuat Chelsea menelan tiga kekalahan dari empat laga terakhir di Liga Inggris.

    Pihak yang pada awalnya pesimis dengan Sarri di awal musim ini pun berada di atas angin. Mereka semakin bersorak ketika pemain sayap Pedro Rodriguez akhirnya buka suara. Pedro mengakui bahwa mereka kesulitan menerapkan Sarri-ball di setiap laga.

    Apa itu Sarri-ball dan kenapa Pedro akhirnya mengakui bahwa mereka kesulitan mewujudkan keinginan si manajer?

    Sarri-ball secara sederhana bisa dianggap sebagai sebuah pola permainan menyerang yang mengandalkan penguasaan bola yang dominan dan aliran bola cepat. Skema permainan Sarri-ball disebut mirip dengan Gengen Pressing ala Jurgen Klopp ataupun tiki-taka milik Pep Guardiola.

    Di lapangan, setiap pemain dituntut aktif baik saat bertahan maupun menyerang. Pemain bertahan harus memiliki visi bermain yang baik untuk ikut mengarsiteki serangan sementara pemain depan harus aktif melakukan tekanan saat bertahan agar mereka segera mengembalikan penguasaan bola.

    Pola permainan seperti ini menuntut pemain lebih banyak bergerak di lapangan. Ujung-ujungnya tentu menuntut energi pemain yang harus selalu fit di setiap pertandingan.

    Disitulah tantangan terbesar Sarri. Jika menilik skuad Chelsea yang diwarisi dari Antonio Conte, terutama di lini belakang dan depan, mayoritas pemain utama mereka berusia di atas 30 tahun. Mulai dari David Luiz, Garry Cahill, Cesar Azpilicueta, hingga Willian dan Pedro Roddriguez, semuanya sudah berkepala 3.

    Dengan usia sudah menjelang uzur plus jadwal padat yang dilakoni Chelsea - hingga saat ini Chelsea masih aktif empat kompetisi: Liga Inggris, Carabao Cup, Piala FA dan Liga Eropa - tentu sangat sulit mengharapkan mereka tampil selalu bugar di setiap pertandingan.

    Pemain lapis kedua seperti Antonio Rudiger, Andreas Christen, Davide Zappacosta, hingga Callum Hudson-Odoi yang berusia lebih muda jarang mendapatkan kesempatan atau pun tak memiliki kualitas setara dengan tim utama.

    Barcelona yang pernah berjaya dengan gaya permainan seperti itu saja harus menurunkan tensi permainannya ketika para pemain mereka seperti Charles Puyol, Xavi Hernandez, Andres Iniesta hingga Pedro mulai menua.

    Chelsea juga gagal dalam melakukan peremajaan timnya, terutama di lini depan dan belakang dalam beberapa musim terakhir. Pembelian pemain Chelsea justru didominasi pemain tua seperti David Luiz, Olivier Giroud dan terakhir Gonzalo Higuain.

    Pemain muda yang didatangkan Chelsea, Alvaro Morata, juga tak berhasil menunjukkan performa terbaiknya.

    Dalam beberapa bursa transfer terakhir Chelsea justru sangat banyak berinvestasi di lini tengah. Pembelian N'Golo Kante, Ross Barkley, Danny Drinkwater hingga terakhir Jorginho menunjukan bahwa Chelsea luput memperhatikan regenerasi lini depan dan belakangnya.

    Warisan skuad tua Conte pun menjadi tumbal. Namun Sarri tampak menepis anggapan itu. Sarri lebih menyoroti masalah mental timmnya. 

    Jurnalis Italia, Gabriele Marcotti yang secara intens mengikuti perkembangan Sarri sejak masih di Napoli pun sepakat.  Menurut dia,  warisan Conte bukan hanya soal usia tetapi mental pemain yang sejak awal sudah terbentuk dengan pola difensif-pragmtasi.

    Menurut dia, mental permainan bertahan yang diterapkan Conte plus Jose Mourinho, manajer sebelumnya, tampak sudah membatu dan menjadi sesuatu yang sulit dihapus Sarri. Mental seperti itu, bahkan, menurut dia sudah tertanam sejak nyaris satu dekade terakhir.

    Sejak Chelsea diambil alih oleh Roman Abramovich, menurut Marcotti, Chelsea praktis ditangani mayoritas pelatih yang bermental bertahan.

    "Sarri merupakan manajer kedua yang bertipikal menyerang ketimbang pragmatis di Era Abramovich. Satu manajer lainnya adalah Andre-Villas Boas yang sama-sama kita tahu juga tak sukses," tulis Marcotti.

    Dengan masalah seperti itu plus jadwal padat dan ketat yang menghadang di depan, Sarri tampaknya harus sedikit berdamai dengan filosofi permainannya jika ingin bertahan di Chelsea lebih lama lagi. Dia harus sedikit melakukan perubahan terhadap Sarri-ball dengan mempertimbangkan faktor tenaga dan mental yang dimiliki anak asuhnya.

    Jika terus memaksakan kehendak, bisa jadi dia akan menjadi korban lain dari kekejaman Abramovich yang tak segan mendepat manajer timnya jika gagal membuahkan hasil.

    Satu hal yang harus dipahami Maurizio Sarri adalah bahwa membangun tim yang bisa memainkan Sarri-ball tidak semudah membalikkan telapak tangan. Klopp dan Guardiola yang menjadi pendahulunya di Liga Inggris saja setidaknya membutuhkan satu musim untuk menerapkan gaya permainan yang mirip dengan Sarri-ball.

    DAILY STAR| THE SUN| DAILY MAIL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.