Manchester United Lolos, Pemain yang Absen Ogah Nonton Bareng

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Manchester United, Romelu Lukaku, merayakan gol. (twitter/@optajoe)

    Pemain Manchester United, Romelu Lukaku, merayakan gol. (twitter/@optajoe)

    TEMPO.CO, Jakarta - Nobar alias nonton bareng ternyata tak laku di kalangan pemain manchester United. Di saat teman-temannya berjuang di Parc de Princes, mereka yang tak disertakan dalam tim memilih menonton sendiri di rumah masing-masing.

    Hal itu terlihat dari beberapa unggahan video dari para pemain di akun Instagram. Anthony Martial mengunggah video saat Marcus Rashford mengeksekusi penalti.

    "Come on Rashy.. Come on Rashy..." katanya. Rashy adalah panggilan Marcus Rashford. Ketika Rashford berhasil mencetak gol dia pun bersorak kegirangan.

    Akun pemain MU lainnya juga sama. Jesse Lingard tidak hanya senang. Dalam video itu dia juga joget-joget dengan heboh.

    Juan Mata agak berbeda. Meski mengunggah video detik-detik Rashford mengekseksi penalti. Berbeda dengan Martial tak banyak kata yang diucapkan. Wajah Mata pun tak tampak. Namun kegembiraan terasa dari video itu.

    Rashford memang jadi sumber kebahagiaan. Golnya membuat MU unggul 3-1. Kemenangan itu membawa MU melaju ke babak perempat final. Mereka unggul dengan gol tandang dibanding PSG yang lebih dulu unggul 2-0 di Old Trafford, tiga pekan silam.

    Namun kegembiraan ini cukup dinikmati dalam sunyi. Hal berbeda terjadi dengan para pemain Leicester. Mereka berkumpul di rumah salah satu pemain.

    Pertandingan itu penting. Meski cukup jauh jarak antara mereka namun hasil dari laga itu sangat menentukan titel juara di depan mata. Kecuali Spurs menang, mereka harus menunggu beberapa pekan lagi untuk menjadi juara.

    Yang terjadi dua klub London itu main imbang, 2-2. Artinya 2 Mei 2016, Leicester pun juara. Seketika mereka bersorak gembira bersama-sama. Prestasi Leicester ini menjadi bahan perbincangan yang tak habis-habis. Biasanya juara Liga Primer yang dikuasai beberapa klub saja.



     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.