Suporter PSS Sleman Bertemu Manajemen, Aksi Boikot Berakhir

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • PSS Sleman. (pss-sleman.co.id)

    PSS Sleman. (pss-sleman.co.id)

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Aksi boikot Piala Presiden yang dilakukan kelompok suporter PSS Sleman berakhir setelah mereka pertemuan dengan pihak manajemen Kamis petang, 7 Maret 2019.

    Sebelumnya wadah suporter PSS Sleman yang tergabung dalam kelompok Brigata Curva Sud (BCS) sempat memboikot laga perdana PSS saat kontra Madura Uited dalam laga perdana Selasa 5 Maret 2019 di Stadion Maguwoharjo Sleman. Saat itu tribun sisi selatan dan utara pun nyaris kosong.

    Aksi boikot itu mewarnai kekalahan PSS Sleman atas tamunya Madura United dengan skor 0-2.

    Menindaklanjuti tuntutan supporter PSS Sleman terkait aksi boikot itu, manajemen melalui CEO Putra Sleman Sembada, Soekeno serta perwakilan supporter menggelar pertemuan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman Kamis (7 Maret 2019) malam.

    Dalam pertemuan itu dilakukan pula penandatanganan nota kesepahaman antara perwakilan suporter dengan PT. PSS disaksikan Bupati Sleman, Sri Purnomo, serta manajer PSS Sleman, Retno Sukmawati.

    PSS selaku perusahaan yang menaungi PSS Sleman, menyepakati delapan poin tuntutan kelompok suporter. Sedangkan dari pihak suporter pun akan kembali ke stadion guna mendukung PSS saat menjalani laga kedua melawan Borneo FC Jumat (8 Maret) petang.

    “PT PSS selalu terbuka terhadap segala masukan demi kemajuan tim untuk menjadi lebih baik, kami berterima kasih atas perhatian suporter, ini wujud kepedulian dan kecintaan suporter pada PSS,” ujar CEO PT. PSS Soekeno.

    Soekeno menegaskan PT PSS berkomitmen memajukan pesepakbolaan Sleman khususnya PSS bukan hanya dalam rangka menyongsong kompetisi Liga 1, melainkan juga untuk program pembinaan jangka panjang melalui akademi muda PSS.

    “Hal tersebut kini tengah dipersiapkan dan akan segera diwujudkan lewat struktur pengembangan program,” ujarnya.

    Perihal tuntutan lapangan latihan yang representatif, Soekeno, mengatakan bahwa penentuan tempat latihan secara permanen bakal dilakukan melalui kontrak sewa. Ia pun tak memungkiri bila sebuah tim idealnya memiliki latihan sendiri, namun hal ini bukan perkara mudah dan dapat segera diwujudkan.

    Sebagai perusahaan yang terus berupaya bagi berputarnya roda klub secara sehat dan lebih baik, PT PSS menyadari pentingnya peran sponsor dan bagaimana membuat mereka tertarik, serta tentunya berkelanjutan mendukung tim.

    Sedangkan dalam pernyataan melalui akun media sosial resminya, kelompok supporter yang terhimpun dalam wadah BCS menyatakan dengan adanya nota kesepahaman antara kelompok supporter dengan PT. PSS itu, pihaknya menjunjung tinggi komitmen yang telah disampaikan PT PSS dalam menjawab tuntutan suporter.

    “Namun demikian kami akan terus mengawal apa yang menjadi kesepakatan dan komitmen bersama ini dan melakukan evaluasi atas progress apa saja yang telah dan akan diupayakan pihak PT PSS dalam waktu dekat," bunyi pernyataan itu.

    "Dengan demikian, aksi BOIKOT kami cukupkan sekian dan pertandingan besok malam saat PSS vs Borneo FC, BCS akan kembali all out mendukung kebanggasn," ujar pernyataan itu.

    Pelatih PSS Sleman Seto Nurdiyantoro sebelumnya menuturkan laga PSS  tanpa suporter secara psikis secara tidak langsung memang berpengaruh.

    “Namun saya selalu tegaskan kepada pemain, ada atau tidak suporter, tanggung jawab pemain tetap fokus pada pertandingan," ujar Seto.

    Seto memilih menghormati apapun keputusan suporter, manajemen, dan PT. PSS terkait aksi boikot sebelumnya. "Harapannya situasi ini tidak berlarut-larut, ini menjadi momentum introspeksi masing-masing pihak," ujar Seto.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Kasus Peretasan, dari Rocky Gerung hingga Pandu Riono

    Peretasan merupakan hal yang dilarang oleh UU ITE. Namun sejumlah tokoh sempat jadi korban kasus peretasan, seperti Rocky Gerung dan Pandu Riono.