Manchester City Dilarang Membeli Pemain Dalam 2 Bursa Transfer

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Manchester City. Reuters

    Manchester City. Reuters

    TEMPO.CO, JakartaManchester City terancam hukuman larangan membeli pemain dalam dua masa bursa transfer. Klub kaya yang dimiliki anggota kerajaan Uni Emirat Arab, Mansour bin Zayed Al Nahyan, tersebut dinilai bersalah karena melakukan pembelian pemain di bawah umur.

    Media Inggris, The Sun, menyebutkan bahwa sumber mereka di internal FIFA menyebutkan bahwa mereka telah menyelesaikan investigasi soal sejumlah pembelian pemain muda Manchester City. Menurut sumber tersebut, pengumuman secara resmi soal hukuman terhadap City akan dilakukan dalam satu hingga dua pekan ke depan.

    "Kami mengharapkan akan ada pengumuman terhadap City, sama seperti yang kami buat terhadap Chelsea, dalam satu atau dua pekan ke depan. Secepatnya," tutur si sumber.

    Belum jelas pembelian pemain mana yang dipermasalahkan oleh FIFA. Namun The Sun menyebutkan bahwa investigas FIFA tersebut terkait dengan aktivitas Manchester City mendanai akademi Right to Dream di Ghana.

    Manchester City akan menghadapi hukuman larangan membeli pemain dalam dua masa transfer ke depan. Mereka akan menjadi klub kedua Inggris yang mendapatkan hukuman tersebut dalam sebulan terakhir. Sebelumnya FIFA menjatuhkan hukuman serupa kepada Chelsea.

    Jika hukuman itu benar-benar terjadi, maka rencana Manchester City mendatangkan bek kiri Ben Chiwell dari Leicester City dipastikan akan berantakan. Begitu juga dengan upaya mereka untuk mencari pengganti Fernandinho di lini tengah.

    Manchester City sendiri disebut telah menyiapkan dana sebesar 150 juta pound sterling untuk belanja Manajer Pep Guardiola musim depan. Menurut The Sun, Manchester City menolak berkomentar soal hukuman yang akan mereka terima dari FIFA tersebut.

    THE SUN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.