8 Besar Piala Presiden: Sukses Kalteng Putra di Grup C Kejutan

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kalteng Putra. (liga-indonesia.id)

    Kalteng Putra. (liga-indonesia.id)

    TEMPO.CO, Jakarta - Keberhasilan Kalteng Putra meraih predikat juara Grup C Piala Presiden 2019 disebut pelatih Gomes de Oliveira sebagai hasil yang istimewa.

    Pasalnya mereka bisa mengungguli tim besar seperti Persipura Jayapura, PSIS Semarang, dan PSM Makassar di babak penyisihan yang berlangsung di Stadion Moch Soebroto, Magelang, Jawa Tengah.

    Persipura dan PSIS merupakan mantan juara Liga Indonesia. Sedangkan PSM adalah peringkat kedua Liga 1 Indonesia 2018. Adapun Kalteng Putra hanya berstatus tim promosi Liga 1 dengan predikat peringkat ketiga Liga 2 2018.

    "Lolos ke babak berikutnya sangat istimewa bagi kami. Kami di awal membangun tim baru. Saat ini mereka tahu berjuang sama-sama dalam latihan dan pertandingan," kata Gomes.

    Kalteng Putra berhasil menjadi pemuncak Grup C dengan poin enam dengan selisih plus dua gol. Angka yang mereka kumpulkan sama seperti yang diperoleh Persipura (plus satu gol) di peringkat kedua dan PSIS di peringkat ketiga (gol kemasukan dan gol memasukkan seimbang).

    Hal ini diketahui setelah PSIS mengalahkan PSM dengan skor 1-0 di pertandingan lainnya. Adapun PSM tidak masuk dalam persaingan lolos ke perempat final karena tidak memperoleh poin dari tiga laga terakhir di Grup C

    Tiga klub ini teratas ini secara head to head saling mengalahkan, sehingga agresivitas gol ditentukan yang paling baik dari Kalteng Putra, Persipura, dan PSIS.

    Terkait peringkat kedua di Grup C ini tidak ada tim yang masuk dalam kategori lolos ke perempat final Piala Presiden 2019, lantaran kalah bersaing dari tim runner-up di empat grup lainnya.

    PSSI.ORG | LIGA INDONESIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.