Pantaskah Piala Presiden Diteruskan? Ini Catatan Perbaikannya

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesepakbola Arema FC, Dedi setiawan (kiri) berebut bola dengan pesepakbola Persebaya Surabaya, Ruben Sanadi (kanan) dalam pertandingan Final Piala Presiden Leg Kedua di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Jumat, 12 April 2019. ANTARA/Ari Bowo Sucipto

    Pesepakbola Arema FC, Dedi setiawan (kiri) berebut bola dengan pesepakbola Persebaya Surabaya, Ruben Sanadi (kanan) dalam pertandingan Final Piala Presiden Leg Kedua di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Jumat, 12 April 2019. ANTARA/Ari Bowo Sucipto

    TEMPO.CO, Jakarta - Komentator sepak bola Valentino Simanjuntak, berharap turnamen Piala Presiden akan terus bergulir pada masa mendatang. Tahun ini merupakan gelaran keempat sejak dimulai pertama kali pada 2015.

    Persib Bandung menjadi klub pertama yang meraih kejayaan di Piala Presiden. Arema FC kemudian melanjutkan hal tersebut pada tahun 2017, sebelum Persija Jakarta mengambil alih supremasi musim lalu.

    Pada 2016, Piala Presiden tidak digelar. Tahun ini, Arema FC berhasil meraih gelar keduanya setelah mengalahkan Persebaya Surabaya dengan agregat 4-2.

    "Di semua liga-liga besar Eropa pasti punya event preseason, pertandingan jelang liga yang resmi. Kalau lihat sejarah kelahirannya, ini juga hal yang positif. Waktu itu ketika kekosongan pertandingan, terus ada turnamen seperti ini," buka pria yang memopulerkan kata "Jebret" tersebut.

    "Kemudian liga bergulir dan turnamen ini tetap berjalan. Mudah-mudahan ini bisa terus dan yang lebih penting lagi bukan cuma event turnamen biasa, tetapi benar-benar juga menjadi ajang yang prestisius. Paling tidak siapapun juara di Piala Presiden itu sudah seperti memenangkan suatu turnamen besar juga," ia menambahkan.

    Pria yang akrab disapa Valen ini juga memberikan saran terhadap penyelenggaraan Piala Presiden pada musim depan. Menurutnya, jadwal pertandingan harus benar-benar tidak mengganggu agenda tim di kejuaraan Asia.

    "Harus diatur jadwalnya yang pas dengan penyelenggaraan liga dan liga Asia, supaya tim-tim yang ikut bertanding tidak kebingungan mengatur jadwal dan pemain yang ada," ucapnya.

    Sedangkan Manajer Madura United, Haruna Soemitro, berpendapat jadwal Piala Presiden 2019 terlalu ketat untuk ajang pramusim. Hal tersebut mengacu rentang pertandingan yang tidak sampai satu minggu setelah memasuki fase gugur.

    Misalnya pada babak final yang mempertemukan Persebaya Surabaya dan Arema. Pertandingan pada laga kedua yang berlangsung di Malang, hanya berselang tiga hari dari laga pertama yang dihelat di Surabaya. "Saya pikir urusan waktu recovery," jelasnya.

    Haruna juga mengingatkan kepada semua pihak bila hakikat Piala Presiden merupakan ajang pramusim. Sebab dari tahun ke tahun, setiap tim seperti berlomba-lomba memenangkan turnamen ini.

    "Dari tahun ke tahun ada peningkatan. Tapi, menurut saya penyelenggaran Piala Presiden yang harus dikhawatirkan adalah jangan sampai ini menjadi tujuan akhir dari semua klub. Niat dari semuanya pramusim, mematangkan persiapan semua tim. Kami berharap jangan sampai ini adalah kompetisi di tengah kompetisi itu sendiri," tegas manajer Madura United ini.

    PSSI.ORG | LIGA INDONESIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.