Piala Indonesia: Borneo FC Ingin Tekan Persib di Jalak Harupat

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Borneo FC. (Liga-indonesia.id)

    Borneo FC. (Liga-indonesia.id)

    TEMPO.CO, Jakarta - Borneo FC akan berlaga tandang dalam pertemuan kedua babak 8 besar Piala Indonesia di Stadion Jalak Harupat, Bandung, pada Sabtu, 4 Mei 2019. Pemain senior Borneo FC, Asri Akbar, mengatakan cukup waspada untuk berlaga di sana nantinya.

    Walaupun Pesut Etam sudah unggul usai menang dalam laga kandang dengan skor 2-1 beberapa waktu lalu dan hanya butuh seri di Bandung, Asri mengatakan Borneo FC wajib menyerang di sana untuk bisa lebih memastikan langkah menuju babak selanjutnya.

    "Pertandingan di sana sangatlah penting. Kita hanya butuh seri untuk lolos, tapi tentu sangat berbahaya jika hanya bermain bertahan. Tentu pelatih sudah menyiapkan strategi itu. Kita juga harus bisa mencetak gol agar lebih nyaman nantinya," kata pemain yang mempunyai rambut berwarna ini.

    Bertanding di hadapan Bobotoh nantinya, Asri yang juga mantan pemain Persib Bandung musim 2012 ini berharap laga tersebut bisa berjalan dengan lancar nantinya. "Harapan saya pertandingan bisa berjalan dengan lancar, aman dan fair. Semoga kami bisa lolos ke semifinal nantinya," ungkapnya.

    Melihat peran lini sayap Borneo FC yang saat ini banyak dihuni oleh pemain muda, Asri berharap mereka bisa lebih menikmati pertandingan. Apalagi, dengan arahan pelatih Roberto Carlos  Mario Gomez, menurutnya, pemain muda bisa lebih terbentuk karakternya.

    "Yang penting mental, enjoy saja bermain. Harus di-support juga sama senior. Kami akan saling membantu. Saya juga yakin pemain muda kita sudah bagus mentalnya. Apalagi, pelatih sudah sangat membantu, dalam hal membangun mental pemain muda, ditambah ingin membuat pemain memiliki karakter pemenang, di mana pun berlaga," jelas mantan pemain Persib ini.

    BORNEOFC.ID


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.