Ajax Amsterdam: Ten Hag, Guardiola, dan Filosofi Johan Cruyff

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Erik ten Hag, pelatih Ajax Amsterdam (football-oranje.com)

    Erik ten Hag, pelatih Ajax Amsterdam (football-oranje.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Saat Erik ten Hag sedang menjadi pemain tak ternama di Eredivisie Belanda, Johan Cruyff sebagai pelatih meninggalkan Ajax Amsterdam untuk bergabung dengan Barcelona.

    Selama tiga tahun melatih Ajax -yang dibawanya menjulang semasa pemain pada era legendaris,  Total Football-, Cruyff gagal menambah koleksi trofi juara Eredivisie. Ajax sebelumnya sudah memenangi divisi tertinggi Liga Belanda itu sebanyak 22 kali.

    Tapi, sebagai pelatih, Cruyff membawa Ajax memenangi KNVB Cup atau Piala Belanda dua kali dan pada 1987 menjuarai European Winners Cup, dengan pemain bintang seperti Frank Rijkaard, Marco van Basten, dan Dennis Bergkamp.

    Sebagai pelatih di Ajax, Cruyff tidak sesukses “musuhnya” Louis van Gaal yang membawa klub ini memenangi Liga Champions 1995. Cruyff kemudian lebih identik dengan Barcelona dengan empat gelar juara Liga Spanyol secara beruntun.

    Legenda Belanda, Johan Cruyff, menjadi salah satu bintang yang gagal meraih gelar Piala Dunia. Johan Cruyff berhasil membawa Belanda ke final Piala Dunia 1974 tapi dikalahkan Jerman Barat dengan skor 1-2. Reuters

    Tapi, apapun, Cruyff sudah menjadi ikon sepak bola Belanda sejak saat itu. Itulah latar situasi ketika Ten Hag sedang menjadi pemain di Eredivisie. Cruyffmania terjadi di seantero Belanda.

    Kini, sebagai manajer Ajax Amsterdam, Ten Hag mengikuti arus sang ikon yang disebut konsep  Cruyffian untuk membangkitkan kembali kejayaan klub yang legendaris ini.

    Banyak manajer Ajax sebelmnya mencoba menjalakan filosofi Johan Cruyff dalam bermain sepak bola, tapi gagal. Namun, Ten Hag kini sudah berhasil melakukannya. Ia berhasil membuat Ajax menjadi tim kesayangan di Eropa saat ini karena tampil dengan konsep total football sampai mencapai kembali semifinal Liga Champions setelah periode 1990-an.

    Pengaruh Johan Cruyff kepada Ten Hag selain situasi yang terjadi semasa ia bemain, adalah datang dari Pep Guardiola. Ten Hag menjadi asiten Guardiola saat pelatih asal Spanyol ini menangangi Bayern Munich.

    Pelatih Manchester City Pep Guardiola. Reuters/Carl Recine

    Setelah gurunya, Johan Cruff, meninggal pada 2016 karena kanker paru-paru, Pep Guardiola mengatakan, “Saya tak tahu apa-apa tentang sepakbola sampai saya bertemu dengan Cruyff.”

    Guardila menjadi manajer Bayern Munich ketika Ten Hag menangani tim lapis keduanya pada 2013. Mereka berhubungan selama dua tahun.

    Berbicara tentang sukses Ten Hag membawa Ajax Amsterdam mencapai semifinal Liga Champions dan akan bertemu dengan Tottenham Hotspur pada kesempatan pertama dinihari nanti, Rabu 1 Mei 2019, Guardiola bilang banyak berdiskusi dengannya selama di Jerman.

    “Saya beruntung bertemu dengannya di  Bayern. Saya ikut bangga dengan tempat dia berada sekarang, sebuah klub yang bersejarah,” kata Guardiola.

    Ten Hag sudah secara terbuka mengungkapkan kekagumannya kepada Guardiola. Ketika ditanya tentang masa mereka bersama-sama sebelum Ajax Amsterdam menumbangkan Real Madrid pada 16 besar Liga Champions, ia mengatakan, “Filosofi Guardiola sensasional dan dia mendemonstrasikannya di Barcelona, Bayern, dan City. Ia menciptakan struktur permainan menyerang yang sangat atraktif dan saya berusaha menerapkan hal itu di Ajax Amsterdam.”

    THE SCOTSMAN | DAILY MAIL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.