Borneo FC: Nikmati Awal Puasa, Sebelum Fokus Laga Liga 1 15 Mei

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelatih Borneo FC, Mario Gomez. (pssi.org)

    Pelatih Borneo FC, Mario Gomez. (pssi.org)

    TEMPO.CO, Jakarta - Setelah bertanding pada Sabtu, 4 Mei 2019, di Bandung, dalam laga kedua babak 8 besar Piala Indonesia, Borneo FC langsung meliburkan skuadnya selama dua hari. Hal ini berdasarkan kesepakatan tim pelatih dan juga manajemen. Waktu libur pun bertepatan dengan awal bulan Ramadan yang juga menjadi pertimbangan.

    "Kemarin selepas pertandingan, kita staf pelatih dan manajemen sepakat untuk memberikan libur selama dua hari untuk pemain. Bertepatan  juga waktunya dengan awal bulan Ramadan. Jadi  semua bisa merasakan awal puasa bersama dengan keluarga," ungkap asisten pelatih Ahmad Amiruddin.

    Ahmad mengatakan Roberto Carlos Mario Gomez selaku pelatih kepala Borneo FC menginginkan pemainnya bisa menikmati puasa perdana yang jatuh tepat pada hari Senin ini, agar kemudian nantinya mereka bisa kembali fokus untuk menatap kompetisi yang sebentar lagi akan bergulir.

    Apalagi, Liga 1 musim 2019 akan dimulai pada 15 Mei 2019 mendatang, setelah sebelumnya sempat mundur dan mengalami perubahan.

    "Pelatih kepala, Mario Gomez, juga berpesan agar pemain bisa menikmati liburan ini dan saat tim harus kembali kumpul mereka wajib fokus kembali menghadapi kompetisi Liga 1," katanya.

    Mengenai intensitas serta jadwal latihan, Ahmad menambahkan tim akan tetap berlatih seperti jadwal sebelumnya yaitu pada sore hari, namun ia tidak menepis jika nantinya akan berubah sesuai dengan kebutuhan tim ke depannya selama bulan puasa. Untuk Liga 1 sendiri jika sesuai jadwal akan dipertandingkan pada malam hari, seusai ibadah solat tarawih.

    BORNEOFC.ID


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.