Liga 1: Terancam Sanksi Pasca Ricuh, Begini Sikap PSS Sleman

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gelandang PSS Sleman, Brian Ferreira. (liga-indonesia.id)

    Gelandang PSS Sleman, Brian Ferreira. (liga-indonesia.id)

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Tim PSS Sleman maupun Arema FC berpotensi mendapatkan hukuman dari Komisi Disiplin PSSI menyusul ricuh suporter yang terjadi dalam laga pembuka Liga 1 2019 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Rabu petang 15 Mei 2019 lalu. Dengan sejumlah bukti yang ada,  ancaman hukuman tersebut seperti denda dan juga menggelar pertandingan kandang berikutnya tanpa penonton.

    Dalam laga pembuka yang berakhir dengan kemenangan PSS Sleman 3-1 itu, kebetulan pejabat PSSI datang menonton langsung. Salah satunya Sekjen PSSI Ratu Tisha. Bahkan Tisha juga ikut menjadi korban keganasan suporter dan dievakuasi ke lokasi aman.

    "Kami yakin penyebab kerusuhan itu bukan dari pendukung PSS Sleman maupun Arema, tapi segelintir provokator saja yang memang coba merusak jalannya pertandingan," ujar CEO PT. PSS, perusahaan yang menaungi PSS Sleman, Soekeno 16 Mei 2019.

    Dalam ricuh itu memang suporter yang terlibat saling serang memang hanya terpusat di tribun barat atas dan sudut utara. Sedangkan ribuan suporter loyal PSS di tribun timur dan selatan tak terpancing. Para suporter Arema sebagian juga terlihat tak terpancing aksi rusuh dan memilih menikmati jalannya laga.

    Terkait ancaman sanksi dari Komdis PSSI atas ricuh itu, Soekeno memilih pasrah saja dan menyerahkan sesuai prosedur berlaku.

    "Kami masih yakin suporter PSS Sleman juga Arema tidak punya sifat anarkis, tapi silahkan saja diberi sanksi kalau memang ada pendukung yang terbukti memicu keributan," ujarnya.

    Soekeno menuturkan kejadian ricuh di kandang PSS Sleman ini diharapkan tak terulang. Pihaknya juga mendukung kepolisian untuk mengusut kericuhan itu. Terlebih laga pembuka itu juga ditonton langsung Kepala Kepolisian DIY Inspektur Jenderal Polisi Ahmad Dofiri.

    “Ya kami berharap akan ada tindak lanjut kepolisian sehingga peristiwa serupa ini tak terjadi lagi, tidak hanya di Yogya tapi semua wilayah," ujarnya.

    Soekeno optimis, pasca peristiwa itu laga laga kandang PSS selanjutnya tetap bisa digelar dan mendapatkan izin kepolisian.

    "Kami juga meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dialami penonton khususnya yang terkena imbas kejadian itu," ujarnya.

    Pelatih PSS Sleman, Seto Nurdiantoro mengatakan hanya bisa pasrah jika timnya harus dihukum Komdis PSSI akibat ricuh itu.

    "Kalaupun ada sanksi dari PSSI misalnya bertanding tanpa penonton, jelas itu mengganggu tim. Suporter bagaimanapun bagian dari kami, pemain bisa tampil luar biasa juga karena dukungan suporter," ujar Seto.

    Seto berharap jika benar PSS mendapat sanksi, suporter tetap memberikan dukungan penuh meski tidak bisa datang ke stadion.

    "Semoga (ricuh) seperti ini yang terakhir dalam sepak bola Indonesia," ujarnya.

    Kericuhan pada laga PSS Sleman vs Arema FC itu sendiri memakan korban. Salah satunya adalah pemain PSS Sleman U-16, Anggriyanto Faisal. Dia harus dioperasi di bagian matanya karena terkena pecahan keramik yang dilemparkan pelaku kerusuhan. 


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Peluru Tajam di Malam Jahanam Kerusuhan 22 Mei 2019

    Dalam kerusuhan 22 Mei 2019, empat orang tewas dengan luka mirip bekas tembakan. Seseorang diduga tertembak peluru tajam.