Liga 2: Pelatih Blitar Bandung United Mengeluh Dikerjai Wasit

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Liga 1 2019. (liga-indonesia.id)

    Logo Liga 1 2019. (liga-indonesia.id)

    TEMPO.CO, Banda Aceh - Blitar Bandung United akan melanjutkan 'Tur Sumatera' ke Banda Aceh guna melawan Persiraja dalam lanjutan Liga 2 di Stadion H. Dimurthala, Selasa, 23 Juli 2018. Menjelang laga, Pelatih BBU, Liestiadi, 'curhat' kepada awak media dalam konferensi pers di Banda Aceh.

    Curahan hati Liestiadi berkenaan dengan dua laga sebelumnya yang dijalani Blitar United. "Kekalahan itu kalau secara kacamata saya tidak normal, sangat-sangat tidak fair saat kekalahan itu. Bukan kita  mengkambinghitamkan sesuatu, tetapi kok sepak bola Indonesia masih primitif seperti dulu," ujar Liestiadi.

    Liestiadi memaksudkan laga yang dianggapnya tidak normal saat Blitar United kalah 1-2 melawan Aceh Babel United dan 1-3 kala bersua PSMS Medan. Di kedua laga, banyak keputusan pengadil pertandingan yang dianggap terlalu menguntungkan lawan.

    Seperti di Bangka Belitung, dagu salah satu pemain BBU, Reza Riski, bercucuran darah karena dilanggar pemain tuan rumah. Namun wasit tidak memberi hukuman kartu apapun. Begitupun saat melawan PSMS, hidung salah satu pemain Blitar disebut nyaris patah akibat terkena sikutan lawan.

    Pemain Blitar asal Aceh, Fani Aulia, bahkan terpaksa menunda 'reuni' dengan mantan timnya musim lalu karena mengalami memar.
    "Pemain kita, Fani Aulia juga dihajar sampai bengkak, itu pun gak ada pelanggaran. Kemarin waktu di PSMS, kalau wasitnya fair, kita bisa menang. Karena sampai menit 20 itu harusnya 2 kartu merah untuk pemain lawan," keluh Liestiadi.

    Pria 50 tahun mengungkapkan akibat berbagai keputusan yang dianggap tidak adil, dirinya sampai harus mengingatkan kapten tim, Tantan.
    "Sampai Tantan bilang sama wasit. Wasit, anda punya anak juga kan. Hati-hati anak anda, semoga pulang nanti enggak ada masalah," ungkap Liestiadi menirukan. "Tapi saya sudah ingatkan Tantan, tidak boleh seperti itu," sambung pelatih kelahiran Medan.

    Liestiadi berpendapat harusnya seluruh pihak dalam sepak bola Indonesia harus berlaku profesional. Para pemain khususnya yang berlaga di Liga 2 harus diedukasi mengenai nilai-nilai fair play agar semakin siap untuk bermain di kasta teratas sepakbola Indonesia.

    Begitupun dengan perangkat pertandingan khususnya pengadil yang sedang bertugas. Wasit dianggapnya sebagai salah satu pihak yang paling bertanggungjawab dalam mengatur jalannya pertandingan. Sehingga dirinya mempertanyakan jika ada wasit yang memimpin dengan buruk, padahal sudah melewati berbagai tes dan memahami law of the game dalam sepak bola.

    Ihwal itu, Liestiadi berharap jika laga melawan Persiraja dapat berjalan lebih baik dan para pemainnya tidak mengalami cedera.
    "Mudah-mudahan besok pemain saya enggak ada yang berdarah. Kalau saya enggak ada masalah, tapi pemain saya jangan ada yg berdarah, jangan cedera. Yg penting keselamatan pemain nomor satu. Saya tidak mau brutal, ini termasuk profesional," harap Liestiadi.

    Laga antara Persiraja Banda Aceh melawan Blitar Bandung United menjadi salah satu pertandingan dalam pekan ke-7 Liga 2 Wilayah Barat. 

    IIL ASKAR MONDZA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.