Chelsea: Frank Lampard dan Mediokeritas Pelatih asal Inggris

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelatih Chelsea Frank Lampard bersama Mateo Kovacic dan Pedro. REUTERS/Phil Noble

    Pelatih Chelsea Frank Lampard bersama Mateo Kovacic dan Pedro. REUTERS/Phil Noble

    TEMPO.CO, Jakarta - Gareth Southgate sekali pun tidak menjulang kariernya sebagai manajer klub di Liga Primer Inggris. Ia baru mencuat ketika mengasah tim nasional Inggris yang akhirnya mencapai semifinal Piala Dunia 2018 setelah 28 tahun. Kini ada lagi pelatih lokal di Liga Primer, Frank Lampard, dengan debut buruk, yaitu timnya Chelsea digilas Manchester United 4-0.

    Sebelum bicara faktor-faktor ketidakseimbangan yang terjadi di Chelsea sebelum mantan pemain tim nasional Inggris berusia 41 tahun itu datang kembali ke Stamford Bridge, ada baiknya diingat secara sarkasme, bahwa tak ada lagi pelatih asal Inggris yang bisa unjuk gigi di liga domestiknya.

    Liga Primer Inggris sudah menjadi liga dunia, primadona dari industri sepak bola profesional di jagat ini. Musim lalu, Pep Guardiola, Jurgen Klopp, Maurizo Sarri –orang yang kemudian digantikan posisinya oleh Lampard, Maurico Pochettino, dan Unai Emery adalah manajer pelatih yang menguasai lima besar klasemen.

    Di peringkat keenam, baru Ole Gunnar Solskjaer, yang menjadi kebanggaan Nowergia karena kini melatih tim selegendaris Manchester United.

    Guardiola dan kawan-kawan itu datang dari Eropa daratan dan Amerika Latin.  Di bawah mereka baru ada, pelatih asal Inggris. Antara lain, pelatih yang seusia dengan Lampard tapi sebenarnya lebih matang, Eddie Howe, di AFC Bournemouth.    

    Lantas ada pelatih tertua dalam Liga Primer Inggris saat ini, Roy Hodgson, berusa 72 tahun. Ia mantan manajer tim nasional Inggris dan sarat pengalaman. Tapi, tampaknya, di Crystal Palace saat ini, ia semakin terengah-engah mengejar Guardiola, Klopp, dan kawan-kawan.

    Lampard baru saja menangani Derby County di divisi kedua Liga Inggris, Championship, musim lalu. Prestasinya lumayan tapi belum sekaliber Guardiola cs.

    Yang paling meyakinkan dalam diri Lampard saat ini adalah bahwa ia adalah salah satu ikon pemain Chelsea karena berada di sana selama 13 tahun dengan prestasi menjulang di bawah asuhan beberapa pelatih kenamaan, seperti Jose Mourinho.

    Tapi, pemain hebat belum otomatis bisa menjadi manajer pelatih yang andal. Di sinilah tantangan Frank Lampard meneruskan sukses yang ditinggalkan Sarri, yaitu trofi Liga Europa dan peringkat ketiga musim lalu.

    Ada faktor ketidakseimbangan yang terjadi di Chelsea sebelum Fran Lampard datang. Tapi, itu sudah menjadi risiko yang disadarinya sejak awal.

    Faktor itu adalah sang pemain inspirator Chelsea, Eden Hazard, sudah pindah ke Real Madrid, dan Chelsea mendapat hukuman tak bisa membeli pemain baru sampai musim panas mendatang, Juli-Agustus 2020.

    Frank Lampard bisa butuh waktu untuk melakukan konsolidasi pasukannya. Tapi, entah sang pemilik klub Chelsea, Roman Abramovich. Seak membeli The Blues ini pada 2002, Abramovich telah gonta-ganti 10 manajer.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.