Suporter Indonesia: Brigata Curva Sud, Ultras Dortmund, Loyalitas

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suporter PSS Sleman, brigata curva sud. twitter.com

    Suporter PSS Sleman, brigata curva sud. twitter.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pada dasarnya di Indonesia, bahkan pertandingan sepak bola kelas tarkam alias antarkampun  dipenuhi penggemar fanatik alias suporter.  Jadi bisa dibayangkan antusiasme suporter di sini, lepas dari kualitas dan prestasinya.

    Rabu malam , 14 Agustus 2019, di Stadion H. Dimurthala, Banda Aceh, misalnya para suporter sepak bola ini memenuhi tempat untuk menyaksikan pertandingan Liga 2 antara tuan rumah Persijaraja Banda Aceh dan PSMS Medan. Yang menarik, kedua suporter bisa saling berdampingan menyaksikan pertandingan dua tim yang sebenarnya pernah punya nama legendaris pada era Kompetisi Perserikatan PSSI. 

    Fanatisme kepada tim-tim perserikatan yang dibawa dari era sepak bola masa awal kemerdekaan RI sampai periode 1990-an itulah yang menjadi basis dari tumbuh suburnya suporer pada era Liga Indonesia dengan berbagai variannya sampai sekarang.

    Tipe suporter sepak bola yang fanatik atau biasa kita kenal dalam sepak bola modern dengan istilah suporter ultras.

    Ultra dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah bentuk kata terikat atau tidak dapat berdiri sendiri. Arti ultra adalah luar biasa berlebih-lebihan, teramat sangat. Dalam stuktur bahasa Indonesia, kata itu wajib melekat pada kata lain. Misalnya ultraliberal, ultrakonservatif, dan ultrakanan.

    Kata itu kemudian menjadi kebiasaan untuk disebut sebagai sebuah frasa dalam bahasa Indonesia jika kita berbicara tentang sepak bola dan penggemarnya, yaitu suporter ultras.

    Ultras pada awalnya identik dengan para suporter sepak bola yang berasal dari negara Italia tapi kemudian menjadi salah satu ikon global sepak bola karena pengaruh tayangan jaringan stasiun televisi.

    Kriteria ultras yang “murni” dipelopori Brigata Curva Sud pada 1976. Sebuah kelompok suporter PSS Sleman ini mengemuka sebagai grup yang memelopori paham ultras di Indonesia. Pada musim Liga 1 2019, PSS Sleman naik ke permukaan lagi setelah meraih promosi dari Liga 2 2018.

    Setelah Brigata, muncul ultras lain seperti Green Nord ’27 suporter Persebaya Surabaya, Curva Nord Pekanbaru suporter PSPS Pekanbaru, Ultras Persija Sektor 5 suporter Persija Jakarta, Ultras West Sumatera 1980 suporter Semen Padang FC, dan lainnya.

    Mereka pada umumnya berpakaian hitam. Pada saat tim yang didukung sedang bertanding, mereka terus  menyanyikan yel-yel dukungan kepada tim mereka. Semula yel-yel ini berbahasa Italia. Mereka mengklaim kelompok mereka sebagai komunitas dan bukan sebuah organisasi.

    Di dalam stadion, para ultras tersebut biasanya berdiri di tribun utara atau selatan dengan menggunakan bendera raksasa dan kembang api. Sejumlah kelompok ultras di Indonesia masih menjadi bagian dari kelompok suporter yang lebih dulu berdiri. Misalnya  Green Nord ’27 yang menjadi bagian dari Bonek, Ultras Persija Sektor 5 bagian dari The Jak, dan Curva sud Arema (Arema Indonesia).

    Sedangkan dari Padang, Sumatera Barat, seorang pria yang bernama Rano Esmon, 34 tahun,  memilih suporter Ultras West Sumatera karena keegaliterannya. Ia juga tercatat salah seorang inisiator Ultras West Sumatera yang berdiri pada 2011. Anggotanya saat ini 200 orang.

    “Tidak ada struktur organisasi,” katanya beberapa tahun lalu. Mereka berkumpul sebelum pertandingan. Setelah pertadingan mereka akan melakukan tindakan “ultras on the street”. Saat menyaksikan tim Semen Padang bertanding di Liga Indonesia, mereka lebih mengutamakan nyanyian yang diiringi perkusi, dengan umbul-umbul bendera.

    Mereka tidak punya keterikatan kerja sama dengan manajemen Semen Padang. “Misalnya dapat diskon tiket sehingga kami tidak bisa didikte,” kata Rano.

    Salah satu rujukan dari Rano dan kawan-kawan ini adalah suporter ultras di klub Bundesliga Jerman, yaitu Borussia Dortmund. Meski Semen Padang saat ini berada di papan bawah klasemen Liga 1 Indonesia, mereka tetap total mendukung timnya.”Itu seperti suporter di Eropa. Meski timnya berada di papan bawah, stadion tetap ramai,” katanya.

    Ultras baginya juga merupakan suatu cara untuk memberikan semangat kepada tim. “Tidak akan kembang api dan lain. Cukup suara, perkusi, dan bendera.” Anggota ultras mereka kebanyakan berasa dari anggota suporter lainnya.

    Banyak buku kajian dalam dan luar negeri tentang suporter sepak bola fanatik dan militan ini. Tapi, pada dasarnya ada kesamaan pandangan bahwa mereka menjadi bagian dari sebuah kebudayaan yang tercipta di dalam lapangan ketika sebuah pertandingan sepak bola berlangsung.

    Spanduk-spanduk terpampang di tribun, bendera-bendera raksasa dikibarkan di baris terdepan, teriakan yel-yel, koreografi gerakan, dan juga kembang api. Kegiatan itu dilakukan secara terus-menerus selama pertandingan berjalan.

    Tentang hal itu bisa dilihat misinya dari sebuah tulisan admin Brigade Curva Sud ini di laman resmi mereka bcsxpss.com, sebagai berikut: “Memadukan bunyi dengan isi hati. Terlebih untuk dia yang menjadi jantung hati ini. Menilik lebih dalam mengenai chants dan doa. Agar apa yang telah menjadi ucapan adalah cita dan impian agar menjadi kenyataan.”

    Salah satu dari lima asas yang mereka sebuah manifesto dalam laman resminya adalah sebuah slogan, yaitu kata-kata dalam bahasa Inggris, No Leader Just Together.

    Kecenderungan khas dari tipe khas atau murni dari suporter ultras di Indonesia ini tampaknya masih akan tetap ada dan berkembang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?