Potret Sepak Bola Indonesia: Sederet Masalah, Setitik Harapan

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pemain Timnas Indonesia mengikuti latihan di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa 3 September 2019. Latihan tersebut sebagai persiapan melawan Timnas Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 5 September dalam ajang kualifikasi Piala Dunia Qatar 2022. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

    Sejumlah pemain Timnas Indonesia mengikuti latihan di Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa 3 September 2019. Latihan tersebut sebagai persiapan melawan Timnas Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 5 September dalam ajang kualifikasi Piala Dunia Qatar 2022. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, Jakarta - Kondisi sepak bola Indonesia saat ini bisa digambarkan sebagai: baru bangun dari mati suri tapi usaha untuk berbenah terbentur banyak masalah di luar lapangan.

    Mati suri yang dimaksud adalah keadaan sepak bola nasional saat terkena sanksi dari Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) pada tahun 2015-2016. Kala itu, kompetisi domestik mandek dan kiprah di level internasional terhenti.

    Seusai sanksi dicabut, usaha untuk membenahi keadaan tak mudah dilakukan. Kepengurusan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI)
    2016-2020 dilanda berbagai masalah. Berita soal mafia sepak bola, kerusuhan antarsuporter, utang-utang yang tertunggak menjadi penghias media selama hampir lima tahun terakhir.

    Prestasi tim nasional lebih banyak dibahas di meja-meja diskusi. usaha untuk meraih prestasi itu terganggu berbagai kontroversi di luar lapangan tetap menjadi raja.

    Kasus Pengaturan Skor

    PSSI sebagai organisasi goyah ketika para petingginya ditangkapi polisi setelah marak beredar kasus pengaturan skor yang melukai sportivitas. Ketua Umum PSSI pengganti Edy Rahmayadi yang mengundurkan diri, Joko Driyono, divonis penjara selama 1,5 tahun setelah dinilai bersalah dalam kasus penghilangan barang bukti.

    Bersama Joko, anggota komite eksekutif PSSI Johar Lin Eng turut masuk bui karena pengaturan skor. Begitu pula dengan Hidayat, anggota exco PSSI yang sebelum diperiksa polisi mengundurkan diri, yang wajib merasakan dinginnya lantai hotel prodeo.

    Selain pejabat teras, elemen PSSI lain seperti anggota Komite Disiplin PSSI Dwi Irianto, eks anggota Komite Wasit PSSI Priyanto, direktur penugasan wasit PSSI Mansyur Lestaluhu, wasit futsal Anik Yuni Kartika Sari, dan wasit Nurul Safarid juga dijebloskan ke penjara.

    Kasus-kasus di atas menjadi alasan bagi PSSI untuk mengadakan kongres luar biasa (KLB) dan kongres pemilihan para petinggi PSSI yaitu 15 anggota komite eksekutif termasuk di dalamnya ketua umum. KLB digelar pada 27 Juli di Jakarta memutuskan mempercepat kongres pemilihan dari rencananya akhir Januari 2020 menjadi 2 November 2019.

    Keputusan itu mendapatkan pertanyaan dari FIFA melalui surat resminya. FIFA berharap kongres pemilihan tetap berlangsung di bulan Januari 2020 seperti kesepakatan mereka dengan PSSI dan AFC. Akan tetapi, entah bagaimana kenyataannya nanti karena PSSI sejauh ini bersikukuh bahwa kongres pemilihan tetap pada 2 November 2019.

    Problem Suporter dan Utang

    Permasalahan suporter di Indonesia seperti tidak pernah ada habisnya. Kericuhan demi kericuhan berulang kali terjadi, tak jarang menelan korban jiwa. Bukan cuma antarklub, ricuh suporter juga terjadi di laga level internasional.

    Kasus terkini, Kamis, 5 September lalu, sejumlah suporter tim nasional Indonesia melakukan keributan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, saat Indonesia menghadapi Malaysia dalam laga Grup G Kualifikasi Piala Dunia 2022.

    Oknum suporter itu mengintimidasi pendukung timnas Malaysia secara verbal maupun fisik. Makian, lemparan kemasan minuman hingga bom asap mewarnai peristiwa tersebut. Pertandingan sempat dihentikan, tetapi suporter tetap beringas usai laga. Mereka bahkan bentrok dengan polisi di luar stadion.

    PSSI pun terancam sanksi dari FIFA. Namun, organisasi yang berdiri sejak 19 April 1930 itu siap menerima semua konsekuensi. Meski begitu, PSSI pun menyadari bahwa keributan tersebut berpengaruh kepada pencalonan diri Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2021.

    Tiga hari sebelum laga itu, Senin, 2 September, keributan suporter juga terjadi di Liga 2 Indonesia 2019. Pendukung antara dua klub bentrok seusai laga Persik Kediri kontra PSIM Yogyakarta di Kediri.

    Kisah-kisah negatif di luar arena itu berbaur dengan soal miring lain. Salah satunya soal tunggakan utang PT Liga Indonesia Baru (LIB) kepada klub-klub peserta Liga 1 Indonesia 2018 yang belum juga tuntas sampai saat ini.

    Manajer Media dan Hubungan Publik PT LIB Hanif Marjuni mengatakan, pelunasan utang itu akan dilunasi setelah pihak ketiga yaitu sponsor menunaikan kewajibannya. "Targetnya akan diselesaikan sesuai jumlah dana yang masuk ke kami," kata Hanif.

    Setitik Asa

    Di kondisi itu, masih ada asa yang muncul. Di level kelompok umur atau junior, Timnas Indonesia mampu bicara di level regional. Indonesia menjadi juara di Piala AFF U-16 2018, kemudian merebut tahta kampiun di Piala AFF U-22 2019.

    PSSI pun menambah liga kelompok umur sebagai wadah para pemain muda menunjukkan bakat dan mengembangkan kemampuannya. Dari keberadaan Elite Pro Academy Liga 1 U-16 dan U-19 pada tahun 2018, kemudian berkembang menjadi Liga 1 U-16, Liga 1 U-18, Liga 1 U-20 serta Liga 1 Putri pada tahun 2019.

    Demi menggalakkan peningkatan kualitas SDM sepak bola, PSSI pun marak mengadakan kursus wasit dan pelatih yang sampai tingkat AFC Pro.

    Dari sisi pemerintah, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Persepakbolaan Nasional yang melibatkan banyak kementerian dan lembaga negara di dalamnya.

    "PSSI menjadi harapan bangsa Indonesia agar sepak bola lebih berprestasi dan tim yang andal di semua daerah agar dapat mencapai Indonesia Emas 2045," kata Menpora Imam Nahrawi.

    Sederet Target Besar

    PSSI saat ini bersiap untuk langkah-langkah besar. Ada dari aspek penyelenggaraan kejuaraan bergengsi, juga target untuk meraih prestasi bergengsi.

    Australia sudah dihubungi terkait rencana pencalonan tuan rumah Piala Dunia 2034. Ini akan jadi langkah kedua bagi Indonesia untuk mencalonkan diri sebagai tuan rumah, setelah untuk Piala Dunia U-20 2021 yang biddingnya sudah masuk ke FIFA. Di U-20 Indonesia bersaing dengan Brasil dan Peru.

    Untuk urusan prestasi, banyak agenda yang akan berlangsung tahun ini. Indonesia akan bertanding di Kualifikasi Piala Asia U-16 dan U-19 2020. Kita diuntungkan karena laga kualifikasinya digelar di tanah air. Timnas U-16 dan U-19 ditargetkan lolos ke putaran final Piala Asia demi melancarkan tugas menuju Piala Dunia U-17 dan U-20.

    Kemudian, tim nasional U-23 juga akan berkompetisi di SEA Games 2019 yang berlangsung di Filipina. PSSI berharap meraih medali emas di SEA Games, mengulangi prestasi tahun 1991, saat terakhir kali Indonesia merajai cabang olahraga sepak bola SEA Games.

    Target-target besar itu tentu tak akan mudah diraih. Butuh kerja keras, fokus, dan pengorbanan dari semua yang terlibat. Bila semua syarat itu tak bisa dipenuhi, maka sepak bola Indonesia pun akan tetap berkubang dalam kemuraman dan harapan hampa.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.