Kualifikasi Piala Dunia 2022 Malam Ini: Mentalitas Thailand

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Timnas Indonesia Osas Saha mengikuti sesi latihan resmi di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin, 9 September 2019. Latihan tersebut untuk persiapan melawan Timnas Thailand dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2022 Grup G zona Asia. ANTARA

    Pemain Timnas Indonesia Osas Saha mengikuti sesi latihan resmi di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin, 9 September 2019. Latihan tersebut untuk persiapan melawan Timnas Thailand dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2022 Grup G zona Asia. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam sejarahnya, Thailand, yang akan dihadapi dalam kualifikasi Piala Dunia 2022 malam ini, lebih sulit dikalahkan Indonesia dibandingkan dengan Malaysia. Dan, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, mereka pernah mengalahkan Indonesia pada final sepak bola SEA Games.

    Jika melihat kekalahan 2-3 Indonesia dari Malaysia pada pertandingan tim Garuda pada kualifikasi Piala Dunia 2022 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, stamina yang terkesan mengendor pada babak kedua membuat waswas.

    Stadion Gelora Bung Karno menjadi stadion kebanggaan buat tim nasional sepak bola Indonesia. Tapi, sebenarnya sudah lama Stadion GBK justru menjadi semacam kuburan buat pasukan Garuda.

    Bukan pada pertandingan pertama Indonesia pada kualifikasi Piala Dunia 2022 melawan Malaysia itu saja, pasukan Garuda seperti bertanding kandang tapi rasa tandang.

    Pada final sepak bola SEA Games 1979, tim Indonesia asuhan pelatih asal Belanda yang legendaris, Wiel Coerver, kecolongan gol dari ujung tombak Malaysia, Mokhtar Dahari, di hadapan 100 ribu penonton.

    Adapun di kubu Thailand malam nanti ada asisten pelatih Totchtawan Sripan. Pada final sepak bola SEA Games 1997 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sripan adalah salah satu penentu kemenangan Thailand dalam adu penalti setelah kedudukan 1-1 sampai babak perpanjangan waktu.

    Saat itu Wismoyo Arismunandar, sebagai Ketua Umum Komite Nasional Olahraga Indonesia, sampai harus ikut turun ke trek yang memisahkan lapangan stadion dengan penonton untuk ikut menenangkan suporter tuan rumah yang mulai berbuat rusuh.

    Di tengah tekanan seperti itu, mental Tawan Sripan dan kawan-kawan tak tergoyahkan dan justru mereka yang lebih siap dalam adu penalti melawan Indonesia.

    Ada sejumlah pertemuan setelah final SEA Games 1997 itu. Tapi, secara umum, Thailand masih sulit diatasi Indonesia di sepak bola.

    Dalam rentang waktu yang singkat dari pertadingan pertama tim Indonesia asuhan pelatih Simon McMenemy pada kualifikasi Piala Dunia 2022 dengan laga keduanya melawan Thailand malam ini adalah wajar kalau kesangsian muncul terhadap kinerja pasukan Garuda kali ini.

    Tapi, Simon McMenemy dan pasukannya punya hak dan peluang untuk menjawab keraguan itu dengan tampil secara teknik, mental, dan stamina lebih baik. Dan, tidak lagi mengandalkan pada banyak supoter yang hadir di GBK. Sebab, Malaysia sudah membuktikan tak ciut nyalinya karena tekanan suporter. Apalagi, Thailand.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.