Politik Katalunya Memanas, El Clasico Diminta Dipindah

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aksi pemain Barcelona, Luis Suarez dan pemain Real Madrid, Sergio Ramos saat berebut bola dalam laga lanjutan Liga Spanyol di Santiago Bernabeu, Madrid, Spanyol, Ahad dinihari, 3 Maret 2019. Barcelona berhasil mengalahkan Real Madrid berkat gol tunggal dari Ivan Rakitic. REUTERS

    Aksi pemain Barcelona, Luis Suarez dan pemain Real Madrid, Sergio Ramos saat berebut bola dalam laga lanjutan Liga Spanyol di Santiago Bernabeu, Madrid, Spanyol, Ahad dinihari, 3 Maret 2019. Barcelona berhasil mengalahkan Real Madrid berkat gol tunggal dari Ivan Rakitic. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyelenggara kompetisi La Liga Spanyol meminta pertandingan El Clasico antara Barcelona dan Real Madrid yang akan digelar bulan ini pindah lokasi dari Barcelona ke Madrid. Hal itu dinilai perlu dilakukan karena tengah meningkatnya aksi protes di Katalunya.

    Sembilan pemimpin separatis Katalunya dipenjara selama sembilan sampai 13 tahun pada Senin karena berperan dalam menggelar referendum ilegal dan upaya untuk memisahkan diri dari Spanyol.

    Penangkapan para pemimpin tersebut telah memicu aksi protes dan bentrokan di seluruh wilayah Barcelona, yang menjadi ibu kota dari Katalunya.

    Pertandingan antara dua rival abadi tersebut akan berlangsung pada 26 Oktober di stadion Camp Nou, Barcelona. Namun, La Liga telah meminta Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) untuk mengubah lokasi laga itu.

    Pertandingan El Clasico kedua musim ini akan berlangsung di Madrid pada Maret.

    "Kami telah meminta komite kompetisi RFEF untuk bertemu dan mengubah lokasi El Clasico ke Madrid karena keadaan luar biasa di luar kendali kami," kata juru bicara La Liga yang dilansir Reuters pada Rabu.

    Badan sepak bola Spanyol, RFEF, tidak segera memberikan komentar terkait permintaan tersebut.

    Pengumuman masa hukuman penjara para pemimpin separatis itu memicu protes massa di seluruh wilayah Katalunya, dengan kekacauan di bandara El Prat Barcelona yang berujung terhadap pembatalan puluhan jadwal penerbangan serta bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa.

    Media lokal melaporkan bahwa telah terjadi 51 penangkapan sedangkan 125 orang dirawat karena mengalami luka-luka.

    Pada Senin, Barcelona merilis pernyataan "Penjara bukan solusi" sebagai protes mereka terhadap penahanan para pemimpin itu.

    Sementara pelatih Manchester City, Pep Guardiola juga menentang hukuman penjara itu dalam sebuah video yang dirilis di media sosial oleh kelompok Tsunami Demokratic.

    Aksi protes berlanjut sepanjang Rabu, dengan jaringan kereta cepat di negara itu mengalami banyak penundaan, sedangkan jalan raya di seluruh Katalunya dan banyak jalan utama Barcelona tetap ditutup, sebagaimana dikutip dari Reuters.

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.