Suporter Crystal Palace, Kaum Urakan Antianarkis di Selhurst Park

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gelandang Chelsea, Willian melakukan tendangan ke gawang Crystal Palace yang dikawal Vicente Guaita dalam pertandingan Liga Inggris di Selhurst Park, London, 30 Desember 2018. REUTERS/David Klein

    Gelandang Chelsea, Willian melakukan tendangan ke gawang Crystal Palace yang dikawal Vicente Guaita dalam pertandingan Liga Inggris di Selhurst Park, London, 30 Desember 2018. REUTERS/David Klein

    TEMPO.CO, Jakarta - Pada Sabtu lalu, 19 Oktober 2019, di Stadion Selhurst Park, London, Crystal Palace digebuk tamunya, juara bertahan Liga Primer Inggris, 2-0.

    Tapi, supoter Palace di stadion tak bikin huru-hara, apalagi berteriak, “Bakar-bakar,” seperti dituturkan Kapolresta Yogyakarta tentang suara-suara yang muncul dari atas tribun Stadion Mandala Krida, Senin lalu, ketika PSIM kalah 2-3 dari Persis di Liga 2 baru-baru ini dan peradinhan berakhir dengan ricuh di dalam dan luar lapangan.   

    Suporter Palace juga tidak bikin onar dengan menyerang suporter City, seperti yang terjadi dalam laga derby Banten, antara tim tuan rumah Cilegon United dan Perserang, juga dalam Liga 2.

    Ketika pertandingan di Selhurst Park berakhir dengan kekalahan telak tuan rumah, suporter Crystal Palace tetap bertepuk tangan dan berdiri menghormati para pemainnya sampai orang terakhir, bek Palace, Joel Ward, memasuki lorong pemain.

    Dari laporan The Independent, suporter Crystal Pace sekarang ini termasuk yang fenomenal. Kalau mereka hadir di dalam stadion sangat berisik tapi juga sangat kreatif dan tak suka bikin kerusuhan.

    Dan, pada Sabtu, 19 Oktober 2019, di Selhurst Park, supoter Crystap Palace sudah menyiapkan poster berukuran raksasa sebelum pertandingan yang dipersembahkan untuk Joel Ward, bek Palace yang sudah bermain 200 kali buat klubnya ini. “Ia loyal dan ia salah satu pemain yang benar-benar menampilkan spirit Palace,” kata salah satu suporter Crystal Palace.

    Kehadiran mereka di Selhurst Park semakin dihargai karena dalam segala kebisingan yang mereka ciptakan, kelompok suporter ini juga tetap loyal untuk tak bersikap anarkis. Dan, selalu mengelu-elukan para pemain timnya pada akhir laga, menang atau kalah.

    Kelompok suporter baru Crystal Palace ini berdiri pada 2005. Di belakang gawang timnya, ratusan suporter ini menabuh genderang serta berbagai perkusi, bernyanyi dan bersuara riuh. Tapi, mereka adalah sebuah massa yang terus terkendali.

    Dengan daya tariknya tersebut, suporter militan dari Crystal Palace juga bisa bernegosiasi dengan kenaikan harga tiket menonton yang disedian pengelola pertandingan tuan rumah Palace di Selhurst Park. “Kalian dapat uang, kami dapat jiwa kami.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.