Kongres 2 November, Ini Tawaran Program 11 Calon Ketua Umum PSSI

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komite Pemilihan PSSI mengumumkan calon ketua umum sementara yang lolos seleksi di Kantor PSSI, FX Sudirman, Jakarta, Kamis, 10 Oktober 2019. TEMPO/Irsyan

    Komite Pemilihan PSSI mengumumkan calon ketua umum sementara yang lolos seleksi di Kantor PSSI, FX Sudirman, Jakarta, Kamis, 10 Oktober 2019. TEMPO/Irsyan

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebelas calon ketua umum PSSI bakal bertarung dalam Kongres Luar Biasa pada 2 November 2019. Mereka akan bersaing memperebutkan kursi orang nomor satu di federasi sepak bola Indonesia ini. Berikut ini program-program yang ditawarkan masing-masing calon.

    1. Arif Putra Wicaksono

    CEO Nine Sports ini menilai pengetahuan klub di Indonesia mengenai sepak bola modern masih minim. PSSI, kata dia, tidak bisa memaksakan klub di berbagai kompetisi menerapkan sistem manajemen sepak bola modern tanpa peningkatan kapasitas.

    "Pengetahuan masih sangat minim makanya dibutuhkan asistensi," kata dalam diskusi olahraga "Mendapat Ketua PSSI yang Ideal" di kantor Kemenpora, Rabu, 30 Oktober 2019.

    CEO Nine Sport Inc. Arif Putra Wicaksono (kanan) dan CEO Bandung Premier League Doni Setiabudi berfoto bersama usai pendeklarasian diri menjadi calon ketua umum dan wakil ketua umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di Jakarta, Senin (9/9). (Antara/ABDI untuk PSSI 2.0)

    Arif mengatakan, asistensi bisa didapat melalui program sister club. Ia mengaku telah mendapatkan kesepakatan dari 25 klub di Eropa. Beberapa klub yang sudah melalukan asistensi dan supervisi yakni Real Madrid, Barcelona, AC Milan, Liverpool, PSG, Inter Milan, Olympique Lyon, dan Feyenoord. Ia meyakini, jumlah klub bisa lebih banyak apabila dia membawa bendera PSSI.

    Menurut dia, sister club bisa membantu memperbaiki keuangan klub dan membangun good governace. Hal itu juga dapat menarik sponsor untuk berpartisipasi di kompetisi liga. "Jika ada pembinaan yang bagus mereka punya opsi menciptakan pemain buat klub atau menjual pemain mereka, itu juga akan sangat membantu," katanya.

    2. Aven S. Hinelo

    Aven menyebut kepengurusan PSSI saat ini sangat tidak bagus dalam pengeloan prestasi. Ia berjanji akan melakukan perubahan dan perombakan besar-besaran.

    "Saya tahu betul apa yang terjadi saat ini. Di mata saya kepengurusan PSSI yang sekarang sangat miris, dari sisi pengelolaan dan prestasi. Terakhir kita kalah dari Vietnam (kualifikasi Piala Dunia 2022) di kandang sendiri," kata Aven.

    Dalam visi dan misinya, ia akan membuat PSSI bisa bersinergi dengan pemerintah. Ia meyakini jika PSSI dan pemerintah bekerja sama dengan baik, prestasi sepak bola akan bisa diraih.

    Apabila terpilih jadi Ketua Umum PSSI, ia akan mengagendakan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo.

    3. Benhard Limbong

    Limbong mempunyai visi menjadikan Papua sebagai candradimuka pemain sepak bola di Indonesia. Mantan Ketua Komisi Disiplin PSSI itu yakin, dengan konsep memusatkan pembinaan pemain muda di Bumi Cendrawasih akan mampu meredam konflik yang terjadi.

    Menurut dia, kondisi sepak bola di Papua cukup memprihatinkan dengan bubarnya satu per satu klub lokal. Ia mencontohkan bubarnya Persiwa Wamena. Selain itu, ada klub Papua yang pindah kandang, seperti Persiram Raja Ampat yang berubah menjadi Tira Persikabo dan Perseru Serui menjadi Badak Lampung.

    Purnawirawan TNI ini mengatakan, bagi masyarakat Papua, bermain sepak bola adalah hiburan. Itu merupakan hal penting yang harus diperhatikan oleh pemerintah. "Kalau nonton bola itu tidur mereka," ucap dia.

    4. Benny Erwin

    Benny meyakini bahwa syarat penting untuk mendapatkan tim nasional berkualitas adalah pembinan usia muda yang baik. Menurut dia, timnas di kualifikasi Piala Dunia 2022 karena PSSI mengabaikan kompetisi usia dini.

    "Pembenahan di PSSI harus fokus di Asprov (Asosiasi Provinsi), asprov fokus di usia muda agar kita bisa membentuk timnas yang kuat," kata dia dalam diskusi olahraga di Kemenpora, 30 Oktober 2019.

    Calon Ketua Umum PSSI Benny Erwin. TEMPO/Irsyan

    Faktanya, kata Benny, yang menjalankan kompetisi usia dini langsung diambil oleh PSSI dengan melibatkan klub peserta Liga 1. Sementara, Asprov di daerah hanya diberikan kesempatan menggelar Liga Soeratin. "Ke depannya sistem paling utama adalah membentuk pembinaan usia muda. Itu yang utama, agar bisa berbicara di internasional," kata dia.

    Namun, dia melanjutkan, jika ingin kegiatan di Asprov berjalan, PSSI harus menyelesaikan terlebih dahulu masalah utang. Menurut Benny, PSSI masih mempunyai utang yang belum dibayarkan ke Asprov.

    5. Fary Djemi Francis

    Fary berjanji akan mendatangkan pelatih timnas Inggris di Piala Dunia 2002, Sven-Goran Eriksson, yang juga sempat menangani timnas Filipina pada 2018-2019 ke Indonesia, jika terpilih sebagai Ketua Umum PSSI.

    "Eriksson pernah bekerja dengan Indonesia di proyek Primavera. Ia juga dalam waktu singkat mampu memicu prestasi sepak bola Filipina saat melatih di sana," kata Fary.

    Dia juga bertekad membangun Rumah PSSI. Rumah PSSI diterjemahkan Fary sebagai "one stop complex" yang di dalamnya terdapat kantor pengurus, fasilitas latihan, asrama, pusat kebugaran, dan stadion kecil.

    6. La Nyalla Mattalitti

    Ketua DPD RI ini kembali maju sebagai calon ketua umum PSSI. Mantan Ketua PSSI ini ingin memastikan Instruksi Presiden nomor 3 tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional berjalan dengan baik.

    "Niat saya masuk di PSSI itu ingin mengawal Inpres nomor 3 tahun 2019. Sudah keluar sejak Januari 2019 namun tidak berjalan baik karena tidak dikawal," kata La Nyalla dalam wawancara khusus dengan LKBN Antara, di Kompleks Parlemen, Rabu, 16 Oktober 2019.

    Menurut dia, DPD RI bisa bekerja sama dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dan BUMN yang ditransformasikan kepada anggota DPD RI sebanyak 136 orang di 34 Provinsi di seluruh Indonesia.

    "Kalau 136 anggota DPD RI ikut mengawal maka sepak bola Indonesia akan maju. Salah satu tugas DPD RI adalah membangun daerah, termasuk sepak bola di daerah," ujarnya.

    7. Rahim Soekasah

    Rahim mengatakan konsep pemain naturalisasi sudah jauh melenceng dari konsep awalnya. Bekas Kepala Badan Pembinaan Usia Muda PSSI ini mengatakan sebagai pengagas kebijakan naturalisasi fokusnya kepada pemain keturunan Indonesia berkualitas yang bermain di Belanda.

    "Warga keturunan yang nasionalisme kepada bangsa ini tinggi, karena makannya saja rendang" kata Rahim kepada Tempo, 18 Oktober 2019.

    Menurut dia, banyak pesepak bola berdarah Indonesia yang bagus bermain di Liga Eropa. Eks Manajer Timnas Indonesia U-23 di Asian Games 2006 ini mengatakan karena persaingan di Belanda lumayan ketat jadi sulit bermain untuk timnasnya.

    "Kita jadikan saja pemain timnas Indonesia. Kita biarkan dia main di sana. Kompetisinya di sana saja. Jangan di bawah pulang pasti ambruradul lagi," kata dia.

    8. Mochamad Iriawan

    Anggota polisi berpangkat Komisaris Jenderal ini menjabat sebagai Sekretaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) ini berjanji mewakafkan dirinya untuk sepak bola jika terpilih menjadi ketua umum PSSI.

    “Saya siap mewakafkan diri untuk sepak bola. Nantinya saya akan bersinergi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memajukan sepak bola,” kata Iriawan.

    Bakal Calon Ketua Umum PSSI Komjen Pol Mochamad Iriawan menyampaikan keterangan dalam acara "ngobrol bareng bang Iwan Bule bareng wartawan olahraga" di Senayan, Jakarta, Rabu, 21 Agustus 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Ia mengaku memiliki beberapa program yang sudah disusun dengan tujuan utama menembus Piala Dunia tahun 2026. Menurut dia, pesepak bola yang baik bisa dimunculkan dari pembinaan pemain muda dengan skema yang tepat dan berjenjang.

    “Pada tahun 2020, saya akan memulai modernisasi program pembinaan. Lalu, tahun 2021, Indonesia menggapai juara Asia Tenggara, tahun 2022 juara Asia dan lolos ke Piala Dunia 2026,” tutur Iriawan.

    Selain itu, pria yang akrab disapa Iwan Bule ini juga berjanji akan membenahi kompetisi dan membangun infrastrutktur khususnya untuk dijadikan lapangan latihan PSSI. Ia mengatakan akan menyiapkan 30 hektare lahan di kawasan Jabodetabek untuk dijadikan satu kawasan yang di dalamnya ada kantor PSSI, stadion dengan kapasitas 20.000 penonton, empat lapangan latihan dan dilengkapi fasilitas sains olahraga. Seluruh visi misinya tersebut, lagi-lagi tentu tidak lepas dari dukungan pemerintah.

    9. Vijaya Fitriyasa

    Vijaya mengatakan perlu ada evaluasi terhadap PT Liga Indonesia Baru sebagai operator liga perihal carut-marutnya jadwal kompetisi. Pemilik klub Persis Solo ini mengatakan evaluasi itu harus melibatkan seluruh anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI pada periode mendatang.

    "Nanti Exco yang baru mengevakuasi liga yang sekarang, apakah dilanjutkan, apa diganti," kata dia saat ditemui Tempo di Menara Global, 17 Oktober 2019.

    Mengenai jadwal liga, Vijaya mempunyai program untuk membuat nota kesepakatan dengan Kapolri. Kesepakatan itu, kata dia, harus dijalankan sampai ke tingkat Polda dan Polres supaya izin pertandingan bisa lebih mudah didapatkan.

    "Nah sekarang penundaan pertandingan atau reschedule pertandingan karena tidak keluar izin dari polisi," kata da.

    Menurut dia, dengan adanya kesepakatan antara PSSI dan Kapolri, jadwal liga selama setahun bisa dikomunikasikan secara bersama. Izin pertandingan dari kepolisian sudah bisa dikomunikasikan dan diatur secara detail. "Jangan karena acara lain yang sebenarnya secara urgensi masih di bawah liga kemudian liganya digeser," kata dia.

    10. Yeyayas Oktavianus

    Yesayas berjanji mengembalikan timnas Indonesia menjadi Macan Asia. Namun, untuk menuju ke arah itu, kata dia, banyak program yang harus dibenahi.

    “Saya adalah produk unggulan dari sebelas caketum di sini. Saya penuhi kriteria untuk pimpin PSSI. Tiga puluh tahun saya bergelut di sepakbola,” kata Yesayas dalam diskusi sepakbola mencari ketua PSSI ideal yang di Wisma Kemenpora.

    Calon ketua umum PSSI perioden 2019-2023 Yesayas Oktavianus. Antaranews.com/Michael Siahaan

    “Visi saya menabur kejujuran menuai kebaikan, misi saya jadikan Indonesia senagai raksasa sepak bola Asia,” ujarnya.

    Ia mengatakan ada lima hal penting yang akan menjadi fokusnya, yakni youth, development, sport sience, kompetisi, dan tim nasional.

    11. Sarman El Hakim

    Sarman memberikan pernyataan cukup mengejutkan terkait pemilihan pelatih untuk timnas Indonesia. Jika terpilih menjadi Ketua Umum PSSI, ia akan menolak membawa pulang eks pelatih skuat Garuda, Luis Milla.

    "Saya tidak setuju pelatihnya asing, harus nasionalis untuk usia muda," kata dia saat acara diskusi "Mencari Ketua PSSI yang Ideal" di Kemenpora, Rabu, 30 Oktober 2019.

    IRSYAN HASYIM | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman dan Nyaman Liburan Lebaran Idul Fitri 1442 H

    Ada sejumlah protokol kesehatan yang sebaiknya Anda terapkan kala libur lebaran 2021. Termasuk saat Salat Idul Fitri 1442H