Arema FC Vs Madura United: Singo Edan Tak Mau Kecolongan

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Arema FC. (liga-indonesia.id)

    Arema FC. (liga-indonesia.id)

    TEMPO.CO, Jakarta - Arema FC enggan menelan kekalahan lagi saat bertemu Madura United dalam lanjutan Liga 1 pekan ke-27. Pada pertandingan sebelumnya, Arema takluk 3-4 kala bermain di kandang Badak Lampung FC.

    Jumat ini, 8 November 2019, Arema punya peluang merebut poin. Tampil di hadapan pendukung sendiri di Stadion Kanjuruhan, Malang, tuan rumah bertekad meraih poin dari Madura United.

    Penyerang Arema FC, Ahmad Nur Hardianto, mengakui jika hasil buruk melawan Badak Lampung sangat memukul mental para pemain. Namun, Hardianto memastikan semua pemain sudah dalam kondisi 'move on' dan siap melawan Madura United.

    "Kami sudah melupakan kekalahan atas Badak Lampung, di mana itu kekalahan yang sangat menyakitkan. Kami sudah mempersiapkan semuanya di latihan untuk mengamankan tiga poin," kata Hardianto.

    Kekalahan atas Badak Lampung bukan hanya memukul mental pemain Arema FC. Bahkan, kalangan suporter juga sangat kecewa. Tuntutan untuk menang saat menjamu Madura United meningkat untuk mengobati kekecewaan usai kalah dari Badak Lampung.

    "Tidak ada beban. Kami enjoy saja, menikmati pertandingan. Yang penting kami jangan sampai terbebani tetapi harus tetap fokus untuk menang," sebut Hardianto.

    Hardianto berpeluang dimainkan oleh pelatih Milomir Seslija. Sebab, dua penyerang utama Singo Edan, yakni Dedik Setiawan dan Sylvano Comvalius belum bisa bermain.

    "Kami akan berupaya keras untuk bisa membongkar pertahanan Madura United dan tentunya mencetak gol. Tidak penting siapa yang mencetak gol, mau itu penyerang atau yang lain. Yang penting Arema cetak gol," ucap Hardianto.

    LIGA INDONESIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.