Wawancara Iwan Bule: Gerilya 8 Bulan Rebut Voter PSSI

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum PSSI periode 2019-2023 Mochamad Iriawan alias Iwan Bule. TEMPO/Nurdiansah

    Ketua Umum PSSI periode 2019-2023 Mochamad Iriawan alias Iwan Bule. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum PSSI Periode 2019-2023, Mochamad Iriawan alias Iwan Bule mengatakan sudah bergerilya selama delapan bulan untuk bisa menggaet mayoritas pemilik suara (voters) sebelum Kongres Luar Biasa pada awal November 2019. Mantan Kapolda Metro Jaya ini menyebut memulai safarinya sejak April atau setelah Edy Rahmayadi mengundurkan diri. 
     
    Sebagai jenderal bintang aktif yang ingin berkiprah di institusi lain, Iwan Bule terlebih dahulu meminta izin ke Kapolri yang saat itu dijabat Tito Karnavian. Selain dukungan moril, Iwan Bule juga bakal dibantu memberantas pengaturan skor dengan berkoordinasi dengan Satgas Anti Mafia Bola. "Terus terang saja dukungan saya memang Pak Tito, (dukungan itu) memang luar biasa kepada saya," kata dia dalam wawancara eksklusif dengan Tempo, Rabu, 6 November 2019.
     
    Berikut  kutipan wawancara Tempo dengan Iwan Bule yang masih menjabat sebagai Sekretaris Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas):
     
    Sebelum deklarasi bulan Juli sudah keliling ke mana saja?
     
    Sudah dari bulan April. Setelah Pak Edy mengundurkan diri. Sebelumnya sudah banyak yang datang ke saya. Orang kan tidak tahu karena dari kemarin saya tidak muncul. Kami juga banyak kegiatan lain yang mungkin penting juga. Tapi saya sudah sampaikan teman-teman tidak milih saya, silahkan pilih yang terbaik. Kemudian saya belanja masalah dari dia. Sehingga saya tahu daftar permasalahan di klub itu apa. Kompetisi bagaimana. Jadwal bagaimana. Izin pertandingan bagaimana?
     
    Anda sudah serius ketika memutuskan mencalonkan diri?
     
    Serius karena begitu saya memutuskan maju. Saya fokus bahwa saya betul-betul maksimal kepada bola karena saya memutuskan akan maju. Kasarnya saya akan wakafkan diri saya kepada bola. Karena saya harus mengembalikan juga kemudahan yang negara berikan kepada saya. Apa yang sudah kau berikan kepada negara. Negara berikan cukup banyak ke saya. Saya bintang tiga oleh negara, oleh rakyat. Saya tiga kali pejabat gubernur, saya akan berikan itu. Sebetulnya ini pekerjaan baru buat saya. Kalau sudah pensiun baik saya jalan-jalan saja sama cucu. 
     
    Kenapa ketua umum PSSI?
     
    Ini akan mengangkat nama kita. Selain memang bulu tangkis yang memang sudah (berprestasi) dan ini akan menaikkan derajat bangsa kita kalau bisa berkiprah. Memang suporter dan penggemar bola luar biasa dalam setiap pertandingan, dalam suatu perhelatan pasti bola yang paling luar biasa.
     
    Saya ingin berbuat itu, apalagi di sana banyak permasalahan yang teman-teman dapatkan seperti match fixing, kemudian pengaturan skor segala macam. Mudah-mudahan dengan saya dengan dibantu oleh aparat kepolisian, terus terang saja dukungan saya memang Pak Tito, (dukungan itu) memang luar biasa kepada saya.
     
    Silahkan maju bang, saya dukung. Kita waktunya bisa memberikan yang terbaik kepada negara, tentunya sepak bola. Semua satgas yang ada dengan pengungkapan kasus-kasus yang dilakukan dalam persepakbolaan akan di back up. Luar biasa Pak Tito.
     
    Apa dukungan yang diberikan?
     
    Jadi kesempatan kemarin. Kalau selama ini, tidak pernah disentuh. Untouchable memang dulu permainan itu. Kemarin tersentuh oleh Polri kan. Ekspektasi masyarakat luar biasa dan berubah memang. Sekarang saya belum bisa bicara. Kecil-kecil mungkin ada, liga kecil mungkin ada, maaf kalau saya salah. Yang jelas itu berubah. Bisa ditanyakan ke pemilik klub itu memberikan efek yang tinggi Satgas itu.
     
    Kapolri merestui pencalonan Anda?
     
    Jelaslah tanpa restu Kapolri saya tidak akan maju karena kami kan harus izin pimpinan. Kalau Pak Tito bilang tidak maju, saya tidak maju. Sama juga waktu Pak Cucu Sumantri (Wakil Ketua PSSI) lapor ke KSAD, lapor ke Panglima TNI. Dia direstui.
     
    Kenapa kami berdua mungkin dianggap bisa maksimal untuk fokus ke bola Indonesia. Bukan yang lain tidak maksimal. Hidup saya sebenarnya sudah cukup dengan Pak Cucu. Sudah selesailah. Anak-anak juga sudah pada beres. Tinggal nikmati, tapi ini pertaruhan nama saya.
     
    Bayangkan saja nama saya yang sudah saya rintis dari letnan dua sampai sekarang kemudian saya mau macam-macam di bola kan, mahal sekali harganya. Saya punya legacy, bila suatu saat tidak ada di dunia ini. Anak-cucu saya punya kebanggaan. Zaman kakek gue Iwan Bule, ini bola bisa begini. Makanya saya bekerja keras sekali. Setiap hari ini rapat, sampai panggil segala macam.
     
    Anda minta restu juga ke Presiden Jokowi waktu maju pencalonan?
     
    Nggak. Kapolri cukup. Saya kan bawahan. Kalau kapolri (yang memberitahu ke presiden), saya tidak tahu. Cukup buat saya ke kapolri. Kapolri sudah kasih restu.
     
    IRSYAN HASYIM
     
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.