Gaya Rihanna Saat Nonton Juventus Vs Atletico di Liga Champions

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rihanna membawa tas Louis Vuitton dari koleksi terbatas untuk Piala Dunia 1998 saat menonton pertandingan grup D Liga Champion. Instagram/@badgalriri

    Rihanna membawa tas Louis Vuitton dari koleksi terbatas untuk Piala Dunia 1998 saat menonton pertandingan grup D Liga Champion. Instagram/@badgalriri

    TEMPO.CO, Jakarta - Bintang pop dunia, Rihanna, hadir di tribun penonton saat Juventus menghadapi Atletico Madrid dalam pertandingan di Turin, Italia, Selasa, 26 November 2019. Ia menyaksikan klub Italia itu mengalahkan lawannya 1-0 berkat gol Paulo Dybala.

    Rihanna, 31 tahun, hadir di tribun VVIP dengan memakai busana bernuansa cokelat monokromatik. Yang menonjol dan jadi perhatian media adalah tas yang dia bawa.

    Di bahu pelantun lagu kondang "Umbrella" ini tersandang tas kulit Louis Vuitton edisi terbatas Piala Dunia Prancis 1998. Bentuk tas itu unik karena menyerupai bola. Louis Vuitton diketahui menjadi mitra FIFA saat mengeluarkan tas tersebut.

    Rihanna membawa tas Louis Vuitton dari koleksi terbatas untuk Piala Dunia 1998 saat menonton pertandingan grup D Liga Champions. Instagram/@badgalriri

    Sang Diva juga mendapat sambutan khusus dari staf Juventus. Mereka memberinya kaus seragam khusus dengan nama "Riri" tercetak di belakangnya. Riri adalah panggilan penyanyi tersebut.

    Rihanna, wanita kelahiran Barbados yang kini mukim di Inggris, sudah lama dikenal sebagai penggemar sepak bola. Pada Piala Dunia 2014 dia menarik perhatian ketika cuitannya secara berkala mendukung Brasil.

    Musim lalu, Rihanna juga hadir di tribun stadion, menyaksikan Arsenal yang menjamu Everton. Ia sempat berpose bersama sejumlah pemain Arsenal, termasuk Mestu Ozil dan Shkodran Mustafi.

    THE SUN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.