PSSI Minta Timnas U-23 Indonesia Santai Hadapi Laos

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua Umum PSSI Periode 2019-2023, Cucu Sumantri di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu, 2 November 2019. TEMPO/Irsyan

    Wakil Ketua Umum PSSI Periode 2019-2023, Cucu Sumantri di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu, 2 November 2019. TEMPO/Irsyan

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua PSSI, Cucu Sumantri meminta skuad Timnas U-23 Indonesia bermain tanpa beban dalam laga terakhir Grup B SEA Games 2019 melawan Laos. Namun ia meminta Egy Maulana Vikri dan kawan-kawan tetap waspada dan tidak memandang enteng lawan.

    "Tetap harus memenangkan pertandingan, tapi jangan terbebani. Rileks saja," kata Cucu saat dihubungi Tempo, Rabu, 4 Desember 2019.

    Purnawirawan berpangkat Mayor Jenderal TNI AD ini berharap publik mengirim doa kepada Timnas U-23 Indonesia. Ia yakin Garuda Muda mampu mengulang prestasi pada tahun 1991 dengan meraih medali emas SEA Games 2019. "Kami mohon doanya yang tulus," kata dia.

    Timnas U-23 Indonesia akan menghadapi Laos di laga terakhir Grup B cabang olahraga sepak bola SEA Games 2019 di Cavite Stadium, Imus Grandstand, Manila, Kamis, 5 Desember 2019. Ini akan jadi laga hidup mati bagi tim asuhan Indra Sjafri.

    Indonesia mampu naik kembali ke posisi kedua klasemen setelah menang 8-0 atas Brunei, Selasa kemarin. Kini Osvaldo Haay cs mengemas nilai 9, sama dengan Thailand namun unggul selisih gol. Vietnam mantap di puncak klasemen dengan nilai 12.

    Lebih lanjut, Thailand akan berhadapan dengan Vietnam pada laga terakhirnya. Vietnam diprediksi tampil ngotot karena membutuhkan setidaknya hasil seri untuk memastikan lolos ke semifinal.

    Sementara Timnas U-23 Indonesia juga dituntut menang walau Laos dipastikan sudah tersingkir. Kemenangan penting untuk mengantisipasi Thailand bila bisa mengalahkan Vietnam. 

    IRSYAN HASYIM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?