Episode Baru Kehebatan Ansu Fati, Bintang Muda Barcelona

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Barcelona, Ansu Fati. Reuters

    Pemain Barcelona, Ansu Fati. Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Pertandingan sudah memasuki senja. Pada menit ke-85, Manajer Barcelona, Ernesto Valverde, memasukkan Ansu Fati untuk menggantikan Carles Perez.

    Laga hiburan atau tepatnya menambah jam terbang bermain bagi anak baru gede itu. Fati hari itu usianya baru 17 tahun lewat 40 hari.

    Bagi Barcelona, pertandingan di San Siro itu tak penting lagi. Mereka, yang menjadi juara Grup F, sudah lolos ke babak 16 besar.

    Skor laga melawan Inter Milan itu juga tak buruk. Tanpa Lionel Messi, mereka main imbang 1-1. Tidak malu-maluin. Jadi, bolehlah Fati dimainkan.

    Namun, dalam waktu lima menit tersisa, tak seorang pun akan menyangka bakal tercetak sejarah di rumput Giuseppe Meazza pada malam itu. Setelah tiga menit berada di lapangan, Fati membuat cerita besar.

    “Saya memberikan bola ke Luis Suarez, lalu dia mengembalikannya ke saya. Ketika mencetak gol, saya kaget. Seluruh stadion terdengar hening. Saya bingung. Apa yang telah saya lakukan?” kata Fati, seusai laga.

    Pendukung Inter tentu terdiam. Gol itu membuat mereka lemas. Kandas sudah perjalanan mereka di Liga Champions. Mereka pasrah tim kesayangannya harus main di Liga Europa.

    Di rumah sendiri, para pendukung Inter hanya bisa menyaksikan keceriaan pemain Barcelona memberikan selamat kepada Ansu, sang pencetak gol. Saat itu, rekor yang telah bertahan selama 18 tahun runtuh.

    Dia menjadi pencetak gol termuda sepanjang sejarah Liga Champions, yang sebelumnya dipegang Peter Ofori-Quaye, yang menjadi pencetak gol termuda pada usia 17 tahun 195 hari.

    Kala itu, 1 Oktober 1997, dia bermain untuk Olympiacos melawan Rosenborg. Gol itu menjadi satu-satunya di laga yang berakhir dengan kemenangan 5-1 untuk kemenangan Rosenborg tersebut.

    Ansu memang kolektor rekor. Sebelumnya, dia tercatat sebagai pemain termuda Barcelona di La Liga sekaligus pencetak gol paling belia di liga bergengsi itu.

    Yang menarik, rangkaian rekor yang dibuatnya lebih baik dari Lionel Messi—sang megabintang klub itu. Ansu muncul lebih cepat di lapangan dengan seragam inti Barcelona.

    Tak pelak, banyak orang yang menganggap Ansu adalah penerus Messi di Camp Nou. Demikian pun dengan para petinggi Barcelona.

    Seminggu sebelumnya, mereka sudah mengamankan Ansu dari incaran klub-klub besar. Dia diikat kontrak yang membuatnya akan tetap menjadi pemain Barcelona hingga 2022.

    Padahal Juni lalu dia juga baru saja meneken kontrak. Yang baru, rupanya ihwal klausul rilis yang naik menjadi 120 juta euro atau naik 20 juta euro dalam beberapa bulan saja.

    Kelak, bila dia meneken kontrak profesional, yakni umur 18 tahun, nilai klausulnya akan melejit di angka 400 juta euro. Dengan kata lain, kalau ada yang nekat mau membawanya dari Camp Nou, Ansu harus ditebus dengan uang Rp 6,2 triliun.

    Ansu Fati adalah imigran dari Bissau, Guinea, sebuah negeri di Afrika Barat. Sang ayah, Bori Fati, memboyong dia dan keluarganya ke Portugal.

    Marinaleda adalah kota tujuannya. Di sana memang tinggal orang-orang semacam dia, imigran. Bori pun bekerja apa saja.

    Kehidupannya membaik setelah pindah ke Herrera, sekitar 120 kilometer dari Sevilla, Spanyol, saat anaknya, Brahima, masuk klub Sevilla. Di sana Bori menjadi pengemudi.

    Hingga suatu malam, saat pulang, dia ditemui orang yang telah menunggunya di depan rumahnya. “Besok bawa Ansu ke lapangan. Kita lihat sehebat apa dia dalam bermain sepak bola,” kata orang itu.

    Bori menuruti perintah itu. Beberapa hari kemudian datang pengurus sepak bola dari Sevilla dan menawarkan Ansu untuk bergabung.

    Tak lama kemudian, berdatangan pula perwakilan dari dua klub raksasa, Barcelona dan Real Madrid. Mereka menginginkan Ansu bergabung.

    “Madrid memberi tawaran yang lebih baik. Namun Barcelona datang lebih cepat. Albert Puig, pelatih di La Massia, mengunjungi kami dan menyodorkan surat kontrak,” kata Bori.

    Pada usia 10 tahun, Ansu pun menapaki kehidupan barunya menjadi pemain akademi La Masia. Dia menjadi sang fenomenal.

    Karier dia sepertinya akan terus mendaki. Cedera Ousmane Dembélé menjadi pintu pembuka makin seringnya ia dimainkan sang pelatih, Valverde. Persis seperti saat musim lalu, ketika para bintang tak bisa main di lapangan, dia pun mencuri perhatian.

    MARCA | TRANSFERMARK | IRFAN B.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?