PSIS Semarang Pagari Pemain Asing Agar Jangan Hengkang

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain PSIS Semarang Claudir Marini (kanan). Antara

    Pemain PSIS Semarang Claudir Marini (kanan). Antara

    TEMPO.CO, Semarang - Menjelang akhir musim Liga 1 2019 manajemen PSIS Semarang telah menjalin komunikasi untuk perpanjangan kontrak dengan pemain asing. Tiga pemain yang kontraknya bakal habis adalah Wallace Costa, Jonathan Cantillana, dan Claudir Marini. PSIS telah menawarkan kontrak baru kepada mereka.
     
    Pembicaraan kontrak anyar itu dilakukan manajemen PSIS melalui agen ketiga pemain. "Kita berharap ada kata sepakat," ucap General Manajer PSIS Wahyoe Winarto, Ahad, 15 Desember 2019, di Semarang.
     
    Menurut dia, PSIS sengaja memagari para pemain asingnya agar tak hengkang ke klub lain. Ia mengatakan, berdasarkan rekomendasi dari pelatih, para pemain asing yang membela PSIS musim ini layak dipertahankan untuk mengarungi kompetisi tahun depan.
     
    Lelaki yang akrab disapa Liluk itu berharap, pembicaraan kontrak baru berjalan lancar dan dapat segera disepakati. "Minggu-minggu sebelum kompetisi selesai kita harapkan sudah ada kata sepakat," kata dia.
     
    Gerak cepat untuk mengamankan pemain andalan dari pinangan tim lain juga dilakukan PSIS untuk pemain lokal. Liluk menyebut, dalam waktu dekat manajemen dan pelatih PSIS akan berembuk untuk mematangkan komposisi pemain.
     
    Liluk tidak ingin ketika menjelang bergulir kompetisi musim depan, PSIS masih dibingungkan dengan berburu pemain. "Supaya kita tidak bingung untuk kompetisi depan," sebut dia.
     
    Adapun Bruno Silva masih memiliki kontrak sampai akhir musim depan. Ujung tombak berkebangsaan Brasil tersebut baru bergabung dengan Maheza Jenar di tengah kompetisi Liga 1 musim ini.  
     
    JAMAL A. NASHR

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?