Pep Guardiola dan Mikel Arteta: Sahabat, Sekondan, Kini Lawan

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karier bermain Arteta berakhir di Arsenal pada 2016. Selama di Arsenal, ia dipercaya Arsene Wenger menjadi kapten dan bermain dalam 150 pertandingan. REUTERS

    Karier bermain Arteta berakhir di Arsenal pada 2016. Selama di Arsenal, ia dipercaya Arsene Wenger menjadi kapten dan bermain dalam 150 pertandingan. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Untungnya Manchester City ada di peringkat ketiga dan Arsenal jauh di bawah yaitu urutan ke-11 sampai pertandingan ke-18 Liga Primer Inggris 2019-2020. Kalau Arsenal masih seperti dulu sehingga senantiasa berada dalam lima besar, mungkin posisi Pep Guardiola, 48, dan Mikel Arteta, 37, yang kini harus berhadap-hadapan mendekati Boxing Day, 26 Desember 2019, akan terasa lebih menyakitkan dan campuraduk antara –mungkin- simpati dan rindu-dendam.

    Semoga saja Arsenal tak melesat secara sensasional seraya membayang tim-tim di atasnya tiba-tiba terpeleset secara massal, ketika dua orang sahabat dan mantan guru-murih itu harus berhadapan sebagai musuh di Stadion Etihad, Manchester, 1 Maret 2020.

    Saat itulah untuk pertama kali Mikel Arteta sebagai manajer Arsenal akan melawan mantan sahabat sekaligus eks bosnya di Manchester City, Pep Guardiola, dalam paruh kedua Liga Primer Inggris 2019-2020.   

    Dua wartawan olahraga dari Spanyol, Lu Martin dan Pol Ballius, menulis mengenai perjalanan karier kepelatihan Pep Guardiola dan juga hubungannya dengan Mikel Arteta ini dalam buku berjudul Pep’s City: The Making of a Superteam.

    Pep Guardiola dan Mikel Arteta. Reuters

    Mikel Arteta banyak belajar dari Pep Guardiola untuk menjadi manajer pelatih di Manchester City. Setelah gantung sepatu sebagai pemain, Arteta bergabung dalam staf kepelatihan Manchester City pada 2016. Pada tahun itu juga, Pep Guardiola mengawali kariernya sebagai manajer Manchester City setelah meninggalkan Bayern Munich.

    Setelah menghabis waktu bersama-sama sebagai pemain di Barcelona, Mikel Arteta terus menjalin hubungan dengan Pep Guardiola.

    Arteta tinggal di dekat rumah kakak dari Guardiola, Pere, di London, ketika Arteta masih bemain membela Arsenal. Ketika Barcelona melawan Chelsea di Liga Champions 2012, Guardiola yang saat itu sudah menjadi manajer Barca menelepon teman lamanya, Arteta, untuk mencari tahu lawannya itu yang juga berdomisili di London.

    Terkesan dengan analisis Arteta, Guardiola kemudian sering minta masukan dari sahabat sekaligus juniornya tersebut pada berbagai kesempatan.

    Dalam musim 2015-2016, Bayern Munich asuhan Pep Guardiola berhadapan dengan Arsenal pada Liga Champions. Setelah pertandingan, Arteta berbincang-bincang dengan Guardiola di ruangan pemain.

    “Kami terlibat dalam pembicaraan yang baik dan pada akhir obrolan, ia bilang kepada saya bahwa ia ingin bekerja sama dengan saya jika ia pindah ke Inggris,” kata Arteta. “Jadi ketika saya pensiun (dari bermain) saya kontak ia dan bilang, “Apakah pekerjaan itu masih tersedia?”

    Di City, sebagai asisten manajer dari Pep Guardiola, Mikel Arteta bisa lebih banyak berhubungan dengan setiap pemain dibandingkan Guardiola karena kesibukan Pep sebagai manajer tim.

    Mikel Arteta belajar banyak kepada Pep Guardiola bagaimana Pep menterjemahkan strategi kepelatihannya yang canggih dan rumit ke dalam bahasa yang mudah dimengerti para pemainnya. Tapi, di sisi lain, Arteta juga belajar banyak secara otodidak bagaimana mentransformasikan dirinya dari pemain menjadi pelatih yang tahu secara detail kebutuhan setiap pemainnya. Itu berkat posisinya sebagai asisten manajer dari Guardiola di City.

    Sebagai manajer tim, Pep Guardiola, menurut Mikel Arteta, sangat jelas dan tegas dalam menerapkan strategi apa yang mesti dilakukan pemainnya ketika mendapat bola dan ketika bola di kaki lawan. “Semuanya tahu dengan jelas bagaimana mereka harus bermain dan tidak ada tawar-menawar.”

    Pep Guardiola, Mikel Arteta melanjutkan, menegaskan ia mempertahankan dan mengembangkan filosofi permainannya dari Barcelona, Bayern Munich, dan kini Manchester City.

    Tiki-taka operan bola yang mengalir ke depan yang dikembangkan Pep Guardiola di Barcelona, misalnya, dibuat Pep menjadi lebih cepat begitu memasuki daerah rawan lawan ketika menangani Manchester City.

    Meski demikian, Pep Guardiola bisa bersikap begitu toleran kepada Mikel Arteta ketika bermitra kerja di Manchester City. Arteta datang memperkuat tim teknik City, tapi kemudian berkembang menjadi tangan kanan Pep.

    Ketika Manchester City harus berhadapan dengan Arsenal saat masih ditangani Arsene Wenger, Pep Guardiola bisa begitu mudahnya untuk bilang kepada para pemain dan stafnya, “Mikel ambil peranan pekan ini.” Hasil di bawah pengarahan Arteta yang mantan pemain Arsenal, Manchester City mengalahkan The Gunners asuhan Arsene Wenger.

    Mikel Arteta belajar banyak dari sahabat sekaligus seniornya, Pep Guardiola. Ketika Arteta gagal mencapai kesepakatan dengan Arsenal sepeninggal Arsene Wenger, Guardiola bisa lega. Ada rekan senegara mereka dari Spanyol, Unai Emery, yang datang menggantikan Wenger setelah Emery berhenti bekerja di Paris Saint-Germain.

    Tapi, ternyata Emery hanya bisa bertahan sekitar 19 bulan di Arsenal. Dan, kali ini, Arteta, sekondan bagi Pep Guardiola dalam membawa Manchester City menjuarai Liga Primer dua kali beruntun, tak dapat dicegah lagi untuk kembali ke Arsenal, kali ini sebagai manajer.   


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.