Tak Mau Jorjoran di Bursa Trasfer Pemain, Begini Strategi Arsenal

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Manajer Arsenal, Mikel Arteta. Reuters

    Manajer Arsenal, Mikel Arteta. Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Memasuki paruh kedua Liga Primer Inggris musim 2019/2020, Arsenal masih ngos-ngosan untuk keluar dari zona tengah klasemen. Hingga pekan laga ke-21, The Gunners hanya sanggup bertengger di papan ke-10.

    Arsenal meraup 27 poin, hasil dari enam kemenangan, sembilan kali imbang, dan enam kali kalah. Mereka berselisih sembilan angka dari Chelsea, yang berada di posisi empat besar, dan terpaut 31 angka dari Liverpool di puncak klasemen.

    Kondisi Arsenal memang pelik musim ini. Tim yang bermarkas di London Utara itu sempat dua kali ganti manajer. Bermula dari pelengseran Unai Emery. Dalam 13 pekan laga, Arsenal hanya sanggup empat kali menang, enam imbang, dan tiga kali tumbang.

    Manajer tim junior, Fredrik Ljungberg, ditunjuk sebagai pelatih sementara Mesut Oezil dan kawan-kawan. Bersama pelatih berkebangsaan Swedia itu, laju Arsenal masih tersendat. Dalam lima laga di Liga Primer, Arsenal meraih sekali kemenangan, dua kali imbang, dan dua kali kalah.

    Kursi manajer berganti lagi. Kini Arsenal ditangani mantan gelandangnya pada 2011-2016, Mikel Arteta. Hasilnya belum berubah. Dalam tiga laga di Liga Primer, Pierre-Emerick Aubameyang cs meraih masing-masing sekali menang, seri, dan kalah.

    Namun, dalam dua laga terakhir, Arteta sukses mempersembahkan kemenangan untuk Meriam London. Pertama, menang 2-0 menjamu Manchester United di Liga Primer, Kamis pekan lalu. Kedua, kemenangan tipis 1-0 atas Leeds United di Piala FA, Selasa lalu.

    Meski begitu, fan tetap berteriak agar Arsenal membeli pemain, mumpung masih dalam jeda jendela transfer musim dingin. Namun desakan suporter kemungkinan besar tak akan dihiraukan oleh petinggi klub.

    Sebab, sejumlah media Inggris menyebutkan Arsenal tak akan berbelanja pemain dalam bursa Januari ini. Musababnya, pada bursa musim panas tahun lalu Arsenal sudah menggelontorkan duit 145,7 juta euro atau sekitar Rp 2,25 triliun untuk membeli empat pemain. Nicolas Pepe jadi pembelian termahal, yakni 80 juta euro atau sekitar Rp 1,24 triliun, ketika dibeli dari Lille.

    Berkaca pada bursa transfer Januari 2018, Arsenal pun tak keluar duit untuk belanja. Ketika itu, manajer Emery hanya mendatangkan gelandang Denis Suarez dari Barcelona dengan skema peminjaman.

    Padahal Arsenal saat ini butuh upaya untuk mempertebal lini belakang mereka. Media Inggris menyarankan agar Arsenal membeli bek tengah baru yang tangguh. Sejauh ini, Arsenal sudah kebobolan 30 gol dalam 21 laga atau, jika dirata-rata, kebobolan 1,4 gol saban tanding.

    Kabarnya, Arteta sudah mendesak petinggi klub agar menyiapkan dana untuk membeli dua bek tengah. Mantan asisten manajer Manchester City kabarnya sampai mengancam, jika permintaan tersebut tak dipenuhi, sulit bagi timnya untuk bangkit keluar dari zona tengah klasemen.

    Jika benar Arsenal tak sanggup keluar duit, jalan satu-satunya adalah mereka harus cerdas melobi sejumlah klub untuk bersedia meminjamkan bek tengah mereka.

    Goal menyebutkan Arsenal bisa mencoba meminjam Merih Demiral dari Juventus dan Jerome Boateng dari Bayern Muenchen. Kebetulan keduanya sedang sulit tampil di tim inti.

    Demiral baru empat kali tampil di Seri A sejak dibeli Juventus dari Sassuolo, Juni lalu. Leicester City dan Borussia Dortmund berminat membeli bek berusia 21 tahun itu, tapi Juventus menolak.

    Wakil Presiden Juventus, Pavel Nedved, menyatakan klub tak berminat melepas Demiral. Justru Nedved memuji kualitas bek berkebangsaan Turki itu.

    "Dia masih bersemangat memakai seragam Juventus. Kekuatan fisik dan mentalnya masih kami butuhkan," kata mantan gelandang tim nasional Republik Cek itu.

    Alih-alih kehilangan Demiral, akan lebih baik jika Juventus meminjamkan Demiral ke klub lain. Walhasil, Demiral tetap akan berstatus pemain Juve dan dia bisa mendapat menit bermain lebih banyak di klub lain.

    Sebelas-dua belas dengan Boateng. Pemain berusia 31 tahun itu mulai kehilangan tempat di tim inti selepas kedatangan Benjamin Pavard dan Lucas Hernandez. Kontraknya bersama Die Roten masih bersisa hingga Juni 2021.

    Mantan bek kanan Arsenal 2002-2008, Justin Hoyte, menilai Boateng bisa menjadi solusi jangka pendek lini belakang The Gunners. Boateng merupakan pemain yang matang secara mental. Walhasil, dia bisa memimpin tim untuk bertahan.

    "Lagi pula, dia berbeda dengan David Luiz yang gemar aneh-aneh di kotak penalti. Boateng tegas bertahan, buang bola lawan," kata pria berusia 35 tahun itu.

    Hoyte pun yakin Boateng akan bersedia bermain untuk Arsenal. Alasannya, dia masih punya ambisi untuk tampil di kompetisi papan atas. "Bermain di Liga Primer pasti akan menarik minatnya," kata dia.

    SKY SPORTS | FOOTBALL LONDON | SOZCU | INDRA WIJAYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?