PSSI Pakai Alat Baru dan Metode Rahasia untuk Awasi Kinerja Wasit

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kartu merah.

    Ilustrasi kartu merah.

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Komite Wasit PSSI Hasani Abdulgani mengatakan, memiliki metode rahasia untuk mengawasi kinerja wasit serta asisten wasit di liga, termasuk Liga 1 Indonesia 2020 agar iklim sepak bola nasional makin sehat dan makin kompetitif. 

    "Kami memiliki peralatan-peralatan baru dan menggunakan beberapa hal untuk 'membersihkan' sepak bola kita. Namun, saya tidak bisa mengatakannya di media," ujar Hasani di Jakarta, Rabu.

    Menurut pria yang juga menjabat komisaris PT LIB tersebut, hal itu dilakukan agar praktik-praktik kotor seperti pengaturan skor bisa dideteksi dengan segera.

    Hasani menegaskan, PSSI ingin membuat iklim sepak bola nasional semakin sehat dan kompetitif.

    Seandainya ada oknum wasit yang tetap tergoda untuk melakukan tindakan terlarang, dia dipastikan akan diproses hukum.

    "Kalau mau nakal, monggo. Nanti ada Satgas Anti Mafia Bola yang akan memisahkan dia dengan keluarga kurang lebih empat tahun," tutur Hasani.

    Selain dengan metode rahasia, cara lain Komite Wasit PSSI mencegah pengaturan pertandingan di dalam lapangan adalah dengan menaikkan gaji wasit.

    Hasani menyebut, kenaikan penghasilan wasit dan asisten wasit mencapai 38 persen.

    "Peningkatan gajinya sampai 38 persen. Nanti wasit Liga 2 juga otomatis akan mengikuti," kata Hasani.

    Komite Wasit sendiri masih dalam proses seleksi wasit dan hakim garis untuk Liga 1 Indonesia 2020.

    Liga 1 Indonesia 2020 berlangsung mulai 29 Februari sampai 31 Oktober 2020. Ada 18 tim peserta Liga 1 2020, termasuk tiga klub promosi dari Liga 2 2019 yakni Persik Kediri, Persita Tangerang dan Persiraja Banda Aceh.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.