Manchester City, Soal Financial Fair Play UEFA, dan Tragedi

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Hukuman yang diterima Manchester City, untuk tidak boleh Liga Champions Eropa selama dua tahun setelah musim 2019-2020, mendatangkan keprihatinan dari sejumlah pelaku sepak bola.

    Apalagi, berkaitan dengan hukuman dari Asosiasi Persatuan Sepak Bola Eropa (UEFA) itu, pengelola Liga Primer Inggris juga sedang menyelidiki dugaan pelanggaran keuangan Manchester City yang bisa membuat gelar City sebagai juara Liga Primer Inggris pada 2014 dicabut.

    UEFA sedang menunggu Manchester City mengajukan banding atas hukumannya terhadap peraturan Financial Fair Play itu kepada Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS, Court Arbitration of Sports) di Lausanne, Swiss, dalam jangka waktu 10 hari.

    Financial Fair Play adalah peraturan dari UEFA yang melarang klub menghabiskan dana lebih banyak dari apa yang diterimanya dari pemasukan.

    Pelanggaran yang dilakukan City terkuak berkat  berita laporan investigasi Der Spiegel, majalah dari Jerman, Maret lalu.

    Majalah ini  menemukan nilai kontrak iklan dan sponsor di juara bertahan Liga Primer yang bermarkas di Stadion Etihad, Manchester tersebut, direkayasa lebih mahal dibandingkan harga aslinya di antara 2012 dan 2016.

    Tindakan rekayasa itu diduga sebagai upaya pemilik klub Manchester City dari Qatar untuk menggelontorkan uang mereka ke klub. Hal itu  sebagai sisasat untuk mengelabui aturan Financial Fair Play UEFA.

    “Saya sepenuhnya bersimpati untuk City. Aturan telah telah menempatkan tempatnya untuk melindungi sekelompok kecil klub elit,” kata  Martin Samuel, editor olahraga Daily Mail, kepada  Sunday Supplement.

    “Jadi satu-satunya jalan ke elit itu dalam jangka panjang –saya tidak berbicara tentang Leiceser, itu keajaiban- adalah dengan menghabiskan uang yang telah dikeluarkan City. Jika tidak, City akan duduk di sana dan Manchester United mengambil pemain terbaik mereka, seperti yang mereka lakukan dengan Wayne Rooney di Everton,” jelas Martin Samuel.

    "Orang-orang berbicara tentang klub yang tumbuh secara organik, bagaimana? Everton memiliki pemain muda terbaik di dunia dan Manchester United datang dan menandatanganinya. Jadi, cara City itu adalah satu-satunya cara,” Martin Samuel melanjutkan.

    “Kklub besar dan UEFA telah menciptakan situasi ini dengan uang Liga Champions mereka. Satu-satunya cara untuk masuk adalah dengan mencocokkan klub secara finansial dalam perlombaan senjata ini. Jadi, itulah yang dilakukan Manchester City,” kata Samuel lagi.

    Manchester City sedang berusaha membatalkan hukuman yang diterimanya dari UEFA tersebut, dengan mengajukan banding kepada Pengadilan Arbitrase Olahraga di Lausanne, Swiss.

    Tapi, jika CAR menolak banding dari Manchester City, nasib tim raksasa ini bisa sama seperti Juventus dengan kasus yang berbeda, yaitu skandal pengaturan pertandingan pada 2006 di Seri A Liga Italia yang dikenal dengan skandal Calciopoli. Gelar Juve dicabut dan poinnya sudah dikurangi pada awal musim baru.  

    SKY SPORTS | ESPN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.