Liverpool Kalah di Kandang Watford, Ismaila Sarr Jadi Bintang

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Watford Ismaila Sarr. REUTERS

    Pemain Watford Ismaila Sarr. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Selepas Liverpool menundukkan Watford 2-0, di Anfield, pertengahan Desember lalu, Sadio Mane, 27 tahun, punya pesan khusus untuk Troy Deeney, sang kapten tim lawan. Dia meminta agar Ismaila Sarr lebih sering disemangati.

    Sarr, 22 tahun, adalah pemain asal Senegal yang baru saja pindah dari Rennes, Prancis, ke Watford, pada musim ini. Seperti Mane, Sarr juga pemain hasil didikan Academie Generation Foot yang terkenal di Dakar.

    “Tolong jaga dia, ya. Dia pemain bagus, sayang dia pemalu,” katanya. “Dia sangat pemalu.”

    Deeney, 31 tahun, menjawab permintaan Mane itu dengan menyebut Sarr sebagai pemain yang selalu bekerja keras. “Dia hanya perlu lebih banyak bicara bahasa Inggris,” katanya.

    Perbincangan di lorong itu terbukti di Vicarage Road, Ahad dinihari kemarin. Dalam laga melawan Liverpool pada pekan ke-28, dia tampil sempurna.

    Sejak babak pertama, Sarr, yang bermain sebagai pemain sayap kiri, telah mencuri perhatian. Salah satunya upaya dia menembakkan bola ke gawang. Gagal, kiper Alisson Becker berhasil mengebloknya.

    Pada babak kedua, Sarr akhirnya mendapatkan bintangnya. Tidak hanya satu, dia mencetak dua gol. Pertama pada menit ke-54, dan kedua 16 menit kemudian.

    Suasana di stadion makin gemuruh setelah Troy Deeney mencetak gol ketiga dalam laga itu. Watford--penghuni zona degradasi--menang tiga gol tanpa balas.

    “Semua itu merupakan hasil kerja. Harus ada yang mengalahkan Liverpool, kenapa bukan kami?” kata Deeney seusai pertandingan.

    Pemain Watford Ismaila Sarr. REUTERS

    Deeney juga menyebut kemenangan ini sebagai bukti bahwa mereka sulit dikalahkan saat bertanding di kandang. “Di babak pertama, semua orang yakin kami bisa mengalahkan mereka,” kata Deeney.

    Kemenangan ini juga menjadi pembicaraan besar. Akhirnya Liverpool, yang pada musim ini begitu perkasa, tak terkalahkan dalam 27 laga, akhirnya bertekuk lutut.

    Dengan begitu, ambisi The Reds, untuk menumbangkan rekor tak terkalahkan terlama yang saat ini dimiliki Arsenal dengan 49 laga, musnah. Sebelum kalah, mereka bertahan hingga 44 laga.

    Kekalahan ini juga menggagalkan rekor mereka di Eropa sebagai tim yang bisa menang sebanyak 19 kali. Di Vicarage Road, rekor itu terhenti di angka 18 laga kemenangan.

    Juergen Klopp sudah memprediksi laga itu akan menyulitkan mereka. Watford dikenal dengan permainan yang mengandalkan kekuatan fisik.

    “Kami harus 100 persen siap untuk laga ini,” kata Klopp sebelum laga. “Inilah yang membuat saya sangat menyayangi para pemain. Ketika tidak klik, mereka tidak kehilangan semangat.”

    Pemain Liverpool, Sadio Mane dan Mohamed Salah tampak tertunduk saat keluar lapangan setelah melawan Watford dalam laga lanjutan Liga Inggris di Vicarage Road, Watford, 29 Februari 2020. Secara mengejutkan, Liverpool takluk 0-3 atas Watford dalam laga pekan ke-28 Liga Inggris. REUTERS/David Klein

    Namun malam itu memang bukan milik Liverpool. Permainan The Reds amat buruk.

    Lini belakang, yang biasanya dijaga oleh Joe Gomez dan Virgil van Dijk, mudah diterobos. Penampilan Dejan Lovren menjadi titik lemah Liverpool.

    Selepas kebobolan, Klopp selalu memasukkan pemain main baru, dari Adam Lallana, Divock Origi, hingga Takumi Minamino.

    Namun keadaan tak berubah. "Meski tak menginginkannya, kami tahu kekalahan akan terjadi,” kata Klopp tentang kekalahan itu.

    Seusai laga, lagu Can’t Get Enough milik grup musik lawas Depeche Mode bergema di sana. Lagu itu memang menjadi anthem klub berjulukan The Hornets ini.

    Semua orang di sana, kecuali pendukung Liverpool, bergembira. Tak terkecuali Ismaila Sarr, yang ditarik keluar pada menit ke-82.

    Kerja kerasnya berbuah hasil nan manis. Sebelumnya, dia mengaku kesulitan melakukan adaptasi dengan Liga Primer yang keras.

    Untuk soal itu, Sarr pun menunjuk Mane sebagai orang yang berjasa dalam kiprahnya itu. Mereka terbilang akrab dan sering bicara banyak ketika sama-sama memakai seragam tim nasional Senegal.

    “Dia banyak memberikan tip. Saya berusaha menjalankannya,” katanya kepada The Athletic. Malam di Vicarage Road menjadi teramat indah bagi Ismaila Sarr.

    DAILY MAIL | GOAL | IRFAN B.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Cara Perlawanan 75 Pegawai KPK yang Gagal TWK

    Pegawai KPK yang gagal Tes Wawasan Kebangsaan terus menolak pelemahan komisi antirasuah. Seorang peneliti turut menawarkan sejumlah cara perlawanan.