Liga Belanda Diakhiri: Ajax Maklum, Utrecht dan Cambuur Protes

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Selebrasi pemain Ajax Amsterdam Lasse Schone (bawah) dan Abdelhak Nouri dalam pertandingan Liga Eropa UEFA, 24 November 2016. REUTERS/United Photos/Toussaint Kluiters

    Selebrasi pemain Ajax Amsterdam Lasse Schone (bawah) dan Abdelhak Nouri dalam pertandingan Liga Eropa UEFA, 24 November 2016. REUTERS/United Photos/Toussaint Kluiters

    TEMPO.CO, Jakarta - Ajax Amsterdam menerima keputusan mengakhiri Eredivisie Liga Belanda musim 2019/20 tanpa juara, namun penghentian itu direspons dengan protes dari FC Utrecht dan SC Cambuur Leeuwarden.

    Federasi sepak bola Belanda (KNVB) memutuskan untuk mengakhiri musim 2019/20 karena perpanjangan karantina wilayah mencegah memburuknya pandemi COVID-19. Mereka juga memutuskan tak ada juara dan promosi-degradasi untuk musim ini. Ini untuk kali pertama sejak 1945 tak ada juara di dua divisi teratas liga sepak bola mereka.

    Ajax saat ini menduduki puncak klasemen Eredivisie dengan koleksi 56 poin berbekalkan keunggulan selisih gol atas AZ Alkmaar di posisi kedua. Mereka dipastikan gagal juara, namun menerimanya dengan lapang dada.

    "Kami memimpin klasemen hampir sepanjang musim, memang disayangkan tidak bisa menjadi juara, tetapi menilik situasi saat ini, hal itu bisa dipahami," kata Direktur Pemasaran Ajax Edwin van der Sar kepada kanal video klub dilansir Reuters, Jumat WIB.

    "Saat ini ada banyak hal yang lebih penting dibanding sepak bola," ujar legenda Ajax dan Manchester United itu menambahkan.

    Akan tetapi keputusan KNVB yang juga meliputi penganuliran promosi dan degradasi serta penentuan alokasi tiket kompetisi Eropa tidak diterima dengan baik oleh Utrecht dan Cambuur.

    Cambuur yang saat ini memimpin Eerste Divisie (divisi dua) dengan koleksi 66 poin harus menunda ambisi mereka promosi ke Eredivisie sebab tak ada promosi/degradasi musim ini. Padahal mereka sudah unggul 11 poin dalam perebutan tiket promosi ke Eredivisie dengan sisa sembilan pertandingan.

    "Ini skandal terbesar sepanjang sejarah olahraga Belanda," kata pelatih kepala Cambuur, Henk de Jong.

    Sedangkan Utrecht, yang sudah lolos ke final Piala Belanda melawan Feyenoord, harus merelakan satu tiket fase grup Liga Europa tak bisa mereka raih lewat perjuangan di atas lapangan.

    Keputusan menghentikan sepak bola di Belanda, praktis membuat final Piala Belanda tak digelar dan tiket fase grup Liga Europa langsung diberikan kepada Feyenoord yang saat ini berada di urutan ketiga klasemen Eredivisie.

    "Tak bisa diterima bahwa Piala Belanda diabaikan sama sekali dan tak menghasilkan tiket ke kompetisi Eropa seperti seharusnya," demikian pernyataan resmi Utrecht.

    Penghentian kompetisi Eredivisie membuat Utrecht juga kehilangan kesempatan meraih tiket ke Eropa lewat jalur liga, padahal mereka berada di urutan keenam dan hanya tertinggal tiga poin dengan satu laga simpanan dari Willem II di urutan kelima.

    Willem dan PSV Eindhoven diputuskan memperoleh tiket ke babak kedua kualifikasi Liga Europa, namun alokasi tiket kompetisi Eropa tersebut masih dikonfirmasikan KNVB ke UEFA.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.