Granit Xhaka Menjawab Kepercayaan Mikel Arteta di Arsenal

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gelandang Arsenal, Granit Xhaka berbicara dengan rekannya Sokratis Papastathopoulos saat melawan Wolverhampton dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion Molineux, Wolverhampton, 25 April 2019. Action Images via Reuters/Andrew Boyers

    Gelandang Arsenal, Granit Xhaka berbicara dengan rekannya Sokratis Papastathopoulos saat melawan Wolverhampton dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion Molineux, Wolverhampton, 25 April 2019. Action Images via Reuters/Andrew Boyers

    TEMPO.CO, Jakarta - Selain Dani Ceballos, pemain yang memperoleh kebangkitannya di Arsenal setelah kedatangan pelatih Mikel Arteta di klub itu adalah Granit Xhaka. Dua pemain gelandang tersebut tampil penuh 90 menit membela klub berjuluk the Gunners itu ketika mengalahkan Chelsea 2-1 pada final Piala FA di Stadion Wembley, London, tanpa penonton, dinihari tadi, Minggu 2 Agustus 2020.

    Granit Xhaka, pemain Swiss berusia 27 tahun, ini sempat bertengkar dengan suporter Arsenal saat melawan Crystal Palace di Stadion Emirates, London, semasa di bawah asuhan pelatih Unai Emery. Jabatannya sebagai kapten tim di the Gunners kemudian dicopot dan sempat berniat sekaligus diisukan akan pindah klub atau malah dilepas oleh manajemen Arsenal pada Januari lalu.

    Kedatangan Arteta menggantikan Emery pelan-pelan mengubah sikap sekaligus permainan Xhaka di lapangan. “Mikel memberikan kesempatan kedua buat saya,” kata Xhaka.

    Pertandingan di Wembley dinihari tadi adalah sebuah cerita happy ending buat Xhaka pada akhir musim ini bersama Arsenal. Setelah awalnya tampil bagus kemudian menurun dan mengalami situasi tidak menyenangkan, akhirnya Xhaka bisa bangkit pada akhir musim untuk meraih kebahagiaan di skuad the Gunners.

    Menyambut musim kompetisi 2016-2017, Xhaka didatangkan Arsenal dari Borussia Monchengladbach dengan harga transfer mahal, 30 juta pound sterling atau sekitar Rp 577 miliar.

    Xhaka diharapkan mengisi kekosongan figur pemain gelandang bertahan yang mencuat di Arsenal sepeninggal Patrick Vieira dan Gilberto Silva. Bersama Santi Cazorla, ia kemudian menjadi pasangan gelandang yang ideal di the Gunners.

    Xhaka kemudian berubah dari seorang bintang menjadi pekecundang, dengan kerap melalukan tackling yang ceroboh dan membuka pintu buat lawan untuk mendapat kesempatan membobol gawang Arsenal melalui tendangan bola-bola mati.

    Xhaka sebenarnya adalah pemain yang memiliki jiwa kepemimpinan kuat dan vokal di lapangan. Itu sebabnya Emery memilihnya sebagai kapten dan berharap kualitas pemainannya pulih seperti semula.

    Tapi, waktu Emery hanya singkat di Arsenal yang mengalami problem terus-menerus sepeninggal Arsene Wenger. Beruntung, Mikel Arteta sebagai pelatih terbaru di Arsenal bisa menahan krisis kepercayaan timnya sekaligus Granit Xhaka. Pemain ini juga layak dipertahankan seperti Dani Ceballos. Xhaka andal sebagai jangkar maupun playmaker.

    SKY SPORTS | BT SPORTS | ESPN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anggaran Rp 28,5 Triliun untuk Gaji Ke-13 di Bulan Agustus 2020

    Pemerintah menyalurkan gaji ke-13 PNS pada Senin, 10 Agustus 2020. Ada sejumlah kelompok yang menerima gaji itu dari anggaran Rp 28,5 triliun.