Andrea Pirlo, Babak Baru Metronom di Juventus, dan Perjumpaan di Krakow

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Andrea Pirlo. REUTERS/Stefano Rellandin

    Andrea Pirlo. REUTERS/Stefano Rellandin

    TEMPO.CO, Jakarta - Dari pemain langsung menjadi pelatih kepala atau manajer. Itulah Andrea Pirlo yang pada Sabtu, 8 Agustus 2020, secara mengagetkan ditunjuk Juventus untuk menggantikan Maurizio Sarrri, setelah Juve disingkirkan Lyon pada 16 besar Liga Champions.

    Yang hebat sebagai pemain belum tentu menjadi andal manajer. Loncatan karier seperti itu juga dialami Frank Rijkaard. Pensiun sebagai pemain tim nasional Belanda pada 1994 dan Ajax 1995, tiga tahun kemudian Rijkaard langsung menjadi tim nasional Belanda dan kemudian Sparta Rotterdam lantas Barcelona 2003-2008.

    Apakah Pirlo akan bisa mengikuti jejak Rijkaard yang cukup berhasil sebagai pelatih –ia yang pertama kali memasukkan Lionel Messi tim senior Barcelona-, sebelum legenda Belanda itu tak lagi terdengar kiprahnya sekarang?

    Semula yang tersiar, Pirlo akan menangani tim Juventus U-23. Tapi, hanya dalam hitungan sekitar 10 hari, pemain legendaris Brescia, Inter Milan, Juventus, dan AC Milan ini berubah posisinya lebih tinggi, setelah Sarri juga mendadak dipecat.

    Pemain dengan julukan Metronome ini menulis dalam bagian awal buku biografinya bahwa ia tidak akan pernah berminat menjadi pelatih atau manajer karena terlalu banyak risiko.

    Sebagai pemain, Pirlo terakhir bermain di New York City pada 2015-2017. Waktu tiga tahun ternyata telah mengubah pendiriannya soal manajer, dimulai dengan menerima pekerjaan melatih Juventus U-23.

    Tapi, memang, petualangan dan mengatur ritme orang adalah dua hal yang disenangi dalam hidup pria yang kini berusia 41 tahun ini. Bakat menjadi sutradara ada di tubuhnya. Itu sebab julukannya di lapangan adalah Metronome alias metronom, sebuah alat yang dipakai dalam musik, seperti drum, agar permainanya stabil dan temponya menjadi konstan.

    Di lapangan permainan, Pirlo adalah penjaga ritme dan konduktor permainan. Ia salah satu gelandang playmaker tersohor di dunia, sebagaimana yang ditampilkannya ketika dimainkan di depan empat bek oleh pelatih Italia, Cesare Prandelli, dalam putaran final Euro 2012 di Polandia-Ukraina.

    Piala Eropa delapan tahun lalu itu merupakan salah satu puncak permainan Pirlo sebelum menurun di Piala Dunia 2014 dan senang dicoret dari skuad Italia menjelang putaran final Euro 2016.

    Saat di Euro 2012, Pirlo masih membela Juventus. Dan, pada saat itu, klub berjuluk Nyonya Tua ini pasti tidak akan lupa bahwa  pemain dengan tinggi sedang untuk ukuran orang Eropa, 1,77 meter, ini membawa mereka menjuarai Seri A Liga Italia 2013-14 dan 2014-15.

    Pada Euro 2012, adalah Andrea Pirlo yang menjadi arsitek di lapangan buat Italia untuk menumbangkan Jerman pada semifinal di Stadion Nasional Warsawa, Polandia. Pada usia 33 tahun saat, ia kandidat pemain terbaik turnamen, sebelum dikalahkan Andres Iniesta dari Spanyol, yang menekuk mereka di final.

    Dari perjumpaan pada acara konferensi pers paca laga semifinal Euro 2012 di Stadion Nasional Warsawa dan sebelumnya di markas Italia selama mengikuti turnamen itu di Krakow, Polandia, Pirlo hadir dengan sosoknya tenang dan kalem dalam menjawab berondongan pertanyaan wartawan.

    Di Krakow, Andrea Pirlo malah tak menolak untuk diajak foto bersama oleh beberapa peliput seusai acara konferensi pers. Sosoknya tenang, santun, tapi tak mengumbar keramahan berlebihan. Mirip seperti Frank Rijkaard.

    Cristiano Ronaldo, yang merupakan pesaingnya sebagai pemain di Euro 2012, kini bermukim di Juventus. Menarik untuk ditunggu apakah Ronaldo bisa padu dengan Andrea Pirlo sebagai pelatih. Tapi, bos Juve, Andrea Agnelli, berharap Sang Metronom ini bisa menyegarkan Juve dan mungkin jauh lebih penting, yaitu agar Nyonya Tua tak lagi hanya jago di kandang tapi juga kembali berjaya di Eropa.     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Masker Scuba Tak Efektif Halau Covid-19, Bandingkan dengan Bahan Kain dan N95

    Dokter Muhamad Fajri Adda'i tak merekomendasikan penggunaan masker scuba dan buff. Ada sejumlah kelemahan pada bahan penutup wajah jenis tersebut.